Bagi mereka
yang berkecimpung dalam dunia pemerintahan, konsep penyusunan naskah dinas
adalah sesuatu hal yang sudah melekat dalam aktivitas keseharian. Naskah Dinas
merupakan informasi tertulis yang digunakan sebagai alat komunikasi kedinasan
yang digunakan/dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang dilingkungan
pemerintahan. Naskah dinas ada dalam setiap detak jantung mulai dari surat
perintah tugas sampai dengan surat pemutusan hubungan kerja (kalu ada sih). Akan tetapi karena sudah
merupakan kebiasaan, terkadang bertabrakan dengan kaidah baku sesuai peraturan.
Kebiasaan dianggap peraturan, alih-alih membiasakan peraturan.
Menyusun dan
mengelola naskah dinas boleh dikatakan gampah-gampang susah. Kondisinya kurang
lebih (harusnya) sama dengan konsep penyusunan naskah akademik yang mana banyak
orang sudah mempelajari di bangku sekolah. Menilik kepada fungsinya sebagai
media komunikasi tertulis yang punya peran strategis, penulisan naskah dinas
harus berpatokan kepada kaidah-kaidah standar demi menghindari terjadinya
mismunikasi ataupun putus komunikasi. Beberapa kaidah standar yang harus
diperhatikan dalam menyusun dan mengelola naskah dinas antara lain asas efektif-efisien, baku, berkaitan dan cepat-tepat. Selain itu asas yang tak
bisa dilupakan adalah asas keamanan.
Sebagian
naskah dinas termasuk kedalam kategori produk hukum, diantaranya naskah-naskah
berupa peraturan dan keputusan-keputusan. Untuk itu dibutuhkan penyusunan
naskah dinas yang tidak menimbulkan penafsiran beragam/ multi tafsir. Berkaitan
dengan hal tersebut, penyelenggaraan naskah dinas harus mengedepankan ketelitian, kejelasan, singkat-padat dan
logis-menyakinkan. Secara garis besar
penulisan naskah dinas harus mengacu kepada sistem ejaaan yang sudah dibakukan,
bagi yang lupa pelajaran Bahasa Indonesia waktu di bangku sekolah dasar bisa di
baca/cari lagi Permendiknas yang mengatur tentang EYD. Mas Google tau tu dimana
letaknya.
Terakhir, beberapa
prinsip diatas mungkin akan sangat berat untuk dilaksanakan dan terbiasakan
secara total oleh kita orang timur yang terbiasa dengan bahasa tulis dan bahasa
lisan yang berputar-putar penuh pengantar, sampai lupa apa/siapa yang diantar.
Hal berbeda terjadi pada masyarakat barat yang terbiasa dengan kaidah “to the point” and “ straigth forward”. Mereka di negara-negara barat yang sudah maju (ada loh negara barat yang gak maju)
merupakan kebiasaan untuk mengutarakan sesuatu secara langsung kepada
inti/pokok permasalahan. Tidak ada salahnya kita belajar satu mata kuliah lagi,
akan arti penting sebuah perbedaan.
www.maszoom.blogspot.com dari beberapa sumber terpercaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar