Tampilkan postingan dengan label Keanekaragaman Hayati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keanekaragaman Hayati. Tampilkan semua postingan

5.25.2016

Peran Burung dalam Ekosistem dan Siklus Ekologi


Ilustrasi Ekosistem Binaan

Terdapat sekitar sepuluh ribu spesies burung yang telah diketahui di seluruh dunia. Diantara berbagai jenis hewan, burung merupakan jenis hewan yang paling mudah dijumpai, mulai dari gurun pasir sampai dengan pesisir, mulai dari panasnya katulistiwa sampai dengan dinginnya kutub utara. Burung juga dengan mudah ditemui di kawasan pedesaan, pegunungan sampai dengan padatnya perkotaan. Dari berbagai jenis hewan yang dikenal manusia, burung merupakan salah satu spesies yang secara turun temurun telah diketahui dengan baik karena terkait dengan beragam manfaat yang diberikan. Burung berperan sebagai sumber bahan pangan, sarana komunikasi, penyerbukan tanaman dan juga hewan peliharaan yang mempercantik suasana sebuah hunian. Selain itu burung juga merupakan agen biologi penting sebagai pengontrol berbagai hama, seperti misalnya tikus dan ulat.
Secara umum burung berperan penting dalam siklus ekologi, khususnya rantai makanan. Akan tetapi dalam beberapa abad terakhir, kegiatan industri dan berbagai kegiatan manusia (antropogenik) telah merusak hampir seluruh habitat berbagai jenis burung dan menyebabkan terjadinya gangguan kesimbangan alam. Diketahui bahwa berbagai jenis burung telah punah serta ratusan jenis lainnya dalam kondisi terancam dan terdampak secara langsung atau tidak langsung dari kegiatan manusia.
Ornitologi (ilmu tentang burung) telah memiliki peran yang penting dalam perkembangan berbagai aspek ilmu pengetahuan. Burung telah memberikan ketertarikan yang luar biasa, melebihi ketertarikan pada berbagai jenis hewan yang lain. Burung telah menarik minat tidak hanya bagi akademisi akan tetapi juga paraktisi yang secara amatir mengamati perubahan dan perkembangan dan turut berperan terhadap ornitologi itu sendiri. Melihat arti penting burung dalam perencanaan konservasi dan kajian lingkungan, diperlukan pemahaman ekologis yang lebih baik tentang peran komunitas peminat burung bagi pembuatan kebijakan konservasi secara umum. Secara luas dipahami bahwa upaya konservasidan kecenderungan tekanan populasi terhadap lahan merupakan salah satu indikator dari kualitas hidup. Lebih dari itu, berbagai jenis burung secara khusus telah diajukan sebagai salah satu indikator potensial terhadap perubahan lingkungan yang erat kaitannya dengan penggunaan lahan. Lebih jauh, burung telah menjadi objek kajian yang luas dalam studi konservasi dan keanekaragaman hayati.
Meskipun berbagai jenis burung telah dipahami akan perannnya dalam menjaga keseimbangan ekologis, akan tetepi senyatanya, semakin banyak spesies burung yang terancam punah karena habitat yang rusak, penyalahgunaan, perburuan liar, dan introduksi berbagai jenis predator, misalnya ular dan kucing. Sebagai contoh, sebanyak 70% spesies burung terancam disebabkan karena kerusakan habitat, sedangkan penyelahgunaan yang dilakukan manusia dan introduksi berbagai jenis predaktor berperan dalam 35% kasus. Secara keseluruhan, kedua faktor tersebut menjadi penyebab utama terancamnya berbagai spesies burung (Owens & Bennet dalam Ali Tabur, 2004). 
Burung memiliki peran yang dangat krusial dalam penyebaran berbagai jenis tumbuhan. Mereka mencari pakan dengan memakan berbagai jenis buah buahan dan secara tidak langsung biji buah buahan tersebut akan tersebar dimana burung itu berada. Bersama dengan kotoran burung tersebut, biji buah buahan seperti mendapat pupuk alami yang berperan dalam perkecambahan biji diawal pertumbuhan. Berbagai jenis burung telah diketahui memiliki keterkaitan erat dengan spesies tumbuhan tertentu. Sebagai contoh, tumbuhan hutan dan semak memiliki buah yang menarik bagi burung. Selain itu beberapa jenis burung pemakan madu juga dikenal berperan dalam proses penyerbukan tanaman. 
D
ari berbagai sumber

Tipe dan Tingkatan Keanekaragaman Hayati


Ilustrasi kehati

Langkah penting dalam mendiskusikan gagasan nilai keanekaragaman hayati adalah dengan mendefiniskan terlebih dahulu keanekaragaman hayati itu sendiri. Sesuai dengan UNCBD (1992), keanekaragaman hayati didefiniskan sebagai variabilitas diantara berbagai mahluk hidup dari segala sumbernya, termasuk diantaranya daratan (terrestrial), lautan dan kompleksitas ekologis dimana mereka menjadi bagiannya. Keanekaragaman hayati mencakup empat tingkatan yaitu tingkat genetik, spesies, ekosistem dan fungsional ekosistem. Dalam tingkatan paling dasar, keanekaragaman hayati menggambarkan tingkat variabilitas dalam spesies. Dapat dikatakan level ini memperhatikan informasi yang diwakili secara genetik dalam DNA setiap individu tumbuhan dan hewan yang meliputi gen, nukleotida, kromosom dan individu.
Keanekaragaman spesies merujuk kepada keberagaman spesies. Secara fisik level ini ditunjukan dengan keanekaragaman kingdom, phyla, famili, genera, subspesies, spesies dan populasi. Estimasi empiris dari level ini ditunjukkan dengan tingkat ketidak-pastian yang tinggi. Dalam kenyataanya, hanya sekitar 1,5 juta spesies yang telah diketahui saat ini (Parker,1982; Arnett, 1985), dengan perkiraan bumi menjadi rumah bagi 5-30 juta spesies lainnya (Wilson, 1988). Karena keanekaragaman genetik dan spesies adalah berkaitan erat, terkadang perbedaan keduanya menjadi sangat kabur, menjadi relevan kemudian keduanya diwakili oleh keanekaragaman genotif dan fenotif untuk memudahkannya.
Keanekaragaman ekosistem merujuk kepada keanekaragaman dalam tingkat supra-spesies atau tingkat komunitas. Hal ini mencakup keanekaragaman komunitas organisme dalam habitat dan kondisi fisik tertentu dimana mereka hidup. Suatu paradigma lama yang telah lebih dulu berkembang menganggap bahwa keanekaragaman spesies merupakan aspek paling penting dalam keanekaragaman hayati karena kemampuannya untuk meningkatkan produktifitas dan stabilitas ekosistem (Odum,1950). Akan tetapi kajian akhir-akhir ini menunjukan bahwa tidak ada pola khusus yang menunjukan hubungan yang diperlukan antara keanekaragaman spesies dan stabilitas ekosistem (Johnson et al., 1996). Kekuatan suatu ekosistem lebih ditentukan keberadaan organisme atau kelompok organisme tertentu, yang lebih dikenal sebagai spesies kunci (keystone spesies) (Folke et al, 1996).
Keanekaragaman fungsional merujuk kepada kemampuan ekosistem untuk mendukung kehidupan dan menyerap dalam level tertentu tekanan dan benturan, tanpa merubah ekosistem saat ini menjadi suatu rejim perilaku yang lain, misalnya domain stabilitas yang lain (Turner et al., 1999). Pendekatan ini pada awalnya dikenal sebagai resiliensi (resilience) (Holling, 1973). Sayangnya, keankearagamn fungsional yang memperkuat sistem saat ini masih belum begitu dipahami dan batasan fungsional kritis berkaitan dengan berubahnya kondisi lingkungan dalam ruang dan waktu berbeda sama sekali belum diketahui (Perrings and Pearce, 1994). Suatu ekosistem dengan resiliensi yang rendah dapat menyebabkan mengurangan produktivitas yang selanjutnya mendorong terjadinya kehilangan fungsi yang tidak dapat kembali lagi, baik untuk generasi sekarang maupun yang akan datang (Arrow et al., 1995). Dalam cakupan luas keanekaragaman fungsional ditunjukan oleh kemampuan ekosistem menimbulkan layanan seperti pengaturan siklus alami utama (air dan karbon) dan proses ekosistem primer seperti fotosintesis dan daur biogeokimia (Turner etal., 2000).
Nunes, Paulo et al., 2001. Economic Valuation Of Biodiversity, Sense or Nonsense? In Elsevier Ecological Economics Journal
 

9.25.2014

Peran Pemerintah dan Masyarakat dalam Pengembangan Pertanian Organik

Ilustrasi Pertanian Organik Si Sumatera (Doc Pribadi)
Budidaya pertaian (agrikultur) menyentuh begitu banyak aspek penting yang menjadi dasar bagi pengembangan ekonomi hijau. Sektor ini mewakili mayoritas pendapatan bagi sebagian besar manusia di berbagai kawasan di dunia. Budidaya pertanian menyediakan sebagian besar bahan pangan yang kita konsumsi dengan penggunaan lahan hampir separuh dari seluruh lahan pertanian di dunia. Dengan penggunaaan hampir tiga perempat potensi air tawar dipermukaan bumi, budidaya pertanian menyediakan berbagai keperluan masyarakat akan barang dan jasa, dan juga jasa ekosistem.

Alih alih mempunyai berbagai manfaat yang diperoleh, budidaya pertanian menghasilkan begitu banyak emisi gas rumah kaca, terbesar kedua setelah sektor energi. Selain itu, budidaya pertanian konvensional juga menjadi sumber utama kontaminasi diberbagai jenis perairan dan lahan. Melihat aspek tersebut, menjadi sedemikian penting peran budidaya pertanian untuk menjadi lokomotif perubahan/transformasi menuju ekonomi yang lebih hijau.

Di lain pihak, berkembangnya pertanian organik menawarkan berbagai peluang bagi setiap kawasan untuk menjaga dan mengembangkan cadangan sumber daya alam dengan cara mengurangi emisi, menciptakan penyimpanan karbon, menjaga kandungan organik tanah dan meningkatkan kekayaan keanekaragaman hayati. Diberbagai belahan dunia, pertanian organik telah mempunyai peran yang sangat nyata dan menjadi semacam katalis dalam pelaksanaan roda ekonomi yang lebih hijau.

Transformasi ekonomi melalui revitalisasi lahan dan produk bahan pangan mampu menciptakan lapangan pekerjaan dengan hasil yang lebih baik. Pertanian organik terbukti mampu meningkatkan pendapatan dan ketahanan pangan masyarakat pedesaan, menciptakan peluang bisnis baru bagi para investor, dan menambah kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional, melalui pengurangan biaya impor bahan dan peralatan (input) pertanian, memicu ekspor produk organik dan menekan biaya sosial yang mungkin terjadi akibat dampak negatif penggunaan bahan kimia dan pestisida dalm industri agro.

Dengan berbagai benefit dan keuntungan yang ada, pertanian organik juga membutuhkan dukungan penuh masyarakat dan masyarakat dalam bentuk dukungan reformasi kebijakan dan investasi. Dengan dukungan tersebut, berbagai keuntungan pelaksanaan sistem pertanian ini akan dapat dirasakan masyarakat secara luas, tidak hanya oleh para petani dan pihak yang terlibat. Perangkat peraturan dan insentif yang dikeluarkan pemerintah dapat menjadi pendorong bagi pertumbuhan produksi pertanian organik. Sebagai contoh di Moldova, sebuah negara Eropa timur, dengan perangkat peraturan yang mendukung, pertanian organik berkembang sebanyak tiga kali lipat antara tahun 2006 sampai 2009. Sebagai hasilnya, ekspor produk pertanian organik meningkat sampai dengan 11 persen.

Pertanian organik membutuhkan investasi nyata dalam hal pengembangan kapasitas dan skill petani dan seluruh rantai komoditas. Selain itu, diperlukan juga penguatan kelembagaan dan pengembangan infrastruktur. Investasi berharga ini pada akhirnya akan menyediakan kondisi ekonomi, sosial dan lingkungan hidup yang lebih baik yang menjadi core bagi pembangunan berkelanjutan.

referensi : UNEP, Green Economy, 2011

9.23.2014

Arti penting pertanian orgaik dalam perang melawan pemanasan global

ilustrasi persawahan (doc pribadi)
Budidaya pertaian (agrikultur) menyentuh begitu banya aspek penting yang menjadi dasar penting bagi pengembangan ekonomi hijau. Sektor ini mewakili mayoritas pendapatan bagi sebagian besar manusia di perbagai kawasan di dunia. Budidaya pertanian menyediakan sebagian besar bahan pangan yang kita konsumsi dengan penggunaan lahan hampir separuh dari seluruh lahan pertanian di dunia. Dengan penggunaaan hampir tiga perempat potensi air tawar dipermukaan bumi, budidaya pertanian menyediakan berbagai keperluan masyarakat akan barang dan jasa, dan juga jasa ekosistem.

Alih alih mempunyai berbagai manfaat yang diperoleh, budidaya pertanian menghasilkan begitu banyak emisi gas rumah kaca, terbesar kedua setelah sektor energi. Selain itu, budidaya pertanian konvensional juga menjadi sumber utama kontaminasi diberbagai jenis perairan dan lahan. Melihat aspek tersebut, menjadi sedemikian penting peran budidaya pertanian untuk menjadi lokomotif perubahan/transformasi menuju ekonomi yang lebih hijau.

Industri agro konvensional menghasilkan produktifitas hasil per hektar yang tinggi dengan penggunaan input seperti bahan bakar fosil, pupuk buatan dan pestisida. Masukan luar tersebut dipercaya membawa efek lain seperti emisi gas rumah kaca, degradasi lahan, erosi dan penurunan kualitas sumber daya alam. Efek tersebut mengurangi kemampuan dan daya tahan alam terhadap kemungkinan penyebaran hama pada tanaman, penurunan kualitas hidup dan kesehatan (disebabkan oleh pestisida dan zat kimia lain), kehilangan kekayaan keanekaragaman hayati, ekosistem dan jasa ekosistem, kontaminasi sumber daya air, peningkatan biaya terkait perubahan iklim.  

Di lain pihak, berkembangnya pertanian organik menawarkan berbagai peluang bagi setiap kawasan untuk menjaga dan mengembangkan cadangan sumber daya alam dengan cara mengurangi emisi, menciptakan penyimpanan karbon, menjaga kandungan organik tanah dan meningkatkan kekayaan keanekaragaman hayati. Dalam sebuah studi yang dilaksankan badan PBB yang membidangi masalah lingkungan (UNEP) di kawasan eropa timur, beragam nilai dari benefit publik dan jasa dari produksi organik dipekirakan mencapai hampir empat puluh dolar per hektar per tahun untuk pencadangan karbon. Selain itu, nilai jasa keanekaragaman hayati per hektar pertahun diperkirakan mencapai tiga puluh dolar.

Selain itu, dengan menghindari penggunaan input asing seperti pupuk buatan dan pestisida, pertanian organik berpotensi menghemat sampai dengan dua ratus dolar per hektar per tahun dibanding dengan produksi pertanian konvensional. Secara keseluruhan, pertanian organik membawa keuntungan lingkungan sampai dengan dua ratus tujuh puluh dolar per hektar per tahun dengan tambahan peningkatan nilai penggunaan lahan, peningkatan keberlanjutan dan pengelolaan lahan yang lebih baik. Angko angko nan ndak saketek kironya ...

referensi : UNEP, Green Economy, 2011

9.22.2014

Budidaya Pertanian Organik, Selangkah Lebih Dekat Menuju Ekonomi Hijau

 “Pertanian Organik tidak hanya sebuah peningkatan nilai tambah bagi petani, lebih dari itu ini adalah sebuah investasi untuk masa depan”, UNEP, Green Economy, 2011.
green economy illustrated from web

Tidak ada satu sektor lain yang menyentuh begitu banya aspek penting dalam pengembangan ekonomi hiaju layaknya budidaya pertaian (agrikultur). Sektor penting ini mewakili sebagian besar pendapatan bagi mayoritas penduduk dunia. Budidaya pertanian menyediakan sebagian besar bahan pangan yang kita konsumsi dengan penggunaan lahan hampir 40 persen dari seluruh lahan pertanian di dunia. Dengan penggunaaan hampir 70 persen air tawar dipermukaan bumi, budidaya pertanian menyediakan berbagai keperluan masyarakat akan barang dan jasa, dan juga jasa ekosistem tentunya.

Berseberangan dengan berbagai manfaat yang diperoleh, budidaya pertanian menghasilkan begitu banyak emisi gas rumah kaca, terbesar kedua setelah sektor energi. Selain itu, budidaya pertanian konvensional juga menjadi sumber utama polusi diberbagai jenis perairan. Menjadi sedemikian penting peran budidaya pertanian untuk menjadi lokomotif perubahan/transformasi menuju ekonomi yang lebih hijau.

Pertanian organik diberbagai belahan dunia telah mempunyai peran yang sangat nyata dan menjadi semacam katalis dalam pelaksanaan roda ekonomi yang lebih hijau. Transformasi ekonomi melalui revitalisasi lahan dan produk bahan pangan mampu menciptakan lapangan pekerjaan dengan hasil yang lebih baik. Pertanian organik terbukti mampu meningkatkan pendapatan dan ketahanan pangan masyarakat pedesaan, menciptakan peluang bisnis baru bagi para investor, dan menambah kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional, melalui pengurangan biaya impor bahan dan peralatan (input) pertanian, memicu ekspor produk organik dan menekan biaya sosial yang mungkin terjadi akibat dampak negatif penggunaan bahan kimia dan pestisida dalm industri agro.

Industri agro konvensional menghasilkan produktifitas hasil per hektar yang tinggi dengan penggunaan masukan luar seperti bahan bakar fosil, pupuk buatan dan pestisida. Masukan luar tersebut dipercaya membawa efek lain seperti emisi gas rumah kaca, degradasi lahan, erosi dan penurunan kualitas sumber daya alam. Efek tersebut mengurangi kemampuan dan daya tahan alam terhadap kemungkinan penyebaran hama pada tanaman, penurunan kualitas hidup dan kesehatan (disebabkan oleh pestisida dan zat kimia lain), kehilangan kekayaan keanekaragaman hayati, ekosistem dan jasa ekosistem, kontaminasi sumber daya air, peningkatan biaya terkait perubahan iklim.  

Di lain pihak, pertanian organik menawarkan berbagai peluang bagi setiap kawasan untuk menjaga dan mengembangkan cadangan sumber daya alam dengan cara mengurangi emisi, menciptakan penyimpanan karbon, menjaga kandungan organik tanah dan meningkatkan kekayaan keanekaragaman hayati. Dalam sebuah studi yang dilaksankan badan PBB yang membidangi masalah lingkungan (UNEP), beragam nilai dari benefit publik dan jasa dari produksi organik dipekirakan mencapai hampir 40 dolar per hektar per tahun untuk pencadangan karbon. Selain itu, nilai jasa keanekaragaman hayati per hekta pertahun diperkirakan mencapai 30 dolar. Selain itu, dengan menghindari penggunaan masukan asing seperti pupuk buatan dan pestisida, pertanian organik lebih hemat sampai dengan 200 dolar per hektar per tahun dibanding dengan produksi pertanian konvensional. Secara keseluruhan, pertanian organik membawa keuntungan lingkungan sampi dengan 270 dolar per hektar per tahun dengan tambahan peningkatan nilai penggunaan lahan, peningkatan keberlanjutan dan pengelolaan lahan yang lebih baik. Sebuah angka yang tak sedikit ... andai jutaan hektar lahan yang ada bisa dikonversi menjadi organik agrikultur.

referensi : UNEP, Green Economy, 2011

5.05.2014

Keberlanjutan dan Isu lingkungan dalam Perdagangan Komoditi Minyak Nabati

minyak sawit (ilustrasi@net)

Pasar minyak nabati dunia saat ini terbagi dalam dua golongan besar (i) bahan pangan yang mencapai 80% dari total produksi dan (ii) pemenuhan kebutuhan industry. Aspek terbesar pendorong  pertumbuhan kebutuhan minyak nabati masih pada pemenuhan kebutuhan bahan pangan meski perkembangan kebutuhan sebagai sumber energy alternative/biofuel/bioenergy semakin penting. termasuk didalamnya biodiesel. Termasuk dalam kebutuhan bionergi tersebut adalah pemanfaatan minyak nabati seperti minyak sawit, minyak kedelai dan minyak jarak/jatropa sebagai sumber bahan bakar nabati (biodiesel).

Sebagian besar masyarakat dunia telah menjadikan alasan bioenergi sebagai kambing hitam terhadap meningkatnya harga pangan dunia. Selain itu konversi lahan untuk produksi minyak nabati di berbagai negara tropis dunia dianggap sebagai salah satu katalisator kerusakan hutan. Awam diketahui bahwa negara negara tropis dunia merupakan kawasan dengan keanekaragaman hayati paling besar di dunia. Kerusakan dan tekanan terhadap alih fungsi lahan di kawasan ini membawa dampak yang lebih nyata. Prinsip dasar aspek keberlanjutan dari bioenergi adalah potensinya dalam menyimpan gas rumah kaca (carbon saving and carbon sinking) dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar fosil.Hal hal  ini menyebabkan isu lingkungan dan keberlanjutan dari pemanfaatan bahan bakar nabati menjadi dipertanyakan.

Lebih lanjut latar belakang yang terjadi sebenarnya adalah  sangat beragam dan rumit. Pangsa pasar komoditi minyak nabati dan pangan pada umumnya dipengaruhi banyak factor. Hal utama yang menjadi dampak kenaikan tersebut adalah fluktuasi/kenaikan harga minyak bumi dan ulah nakal spekulan komoditi pangan dan penjangnya rantai dstribusi dalam perdagangan yang semakin mengglobal. Secara nyata telah dengan jelas tergambar bahwa biaya dasar dari bahan baku mempunyai peran yang relative kecil dalam penentuan harga jual komoditi pangan di negara berkembang. Yang kemudian lebih berpengaruh terhadap komoditi tersebut adalah isu isu lain yang sama sekali tidak terkait dengan bahan baku komoditi sebagaimana tersebut diatas.

Pasar minyak nabati dunia saat ini sedang mengalami perubahan mendasar, dan akan menghadapi tantangan yang tidak ringan dengan berbagai peluang besar yang mengiringi. Perkembangan standar hidup di berbagai negara berkembang, perkembangan populasi yang diikuti perubahan pola diet/asupan gizi dan ekspansi kebutuhan bioenergi merupakan kecenderungan utama/tren yang akan memegang peran dalam perkembangan sector komoditi ini dimasa mendatang.

Perkembangan nyata kebutuhan bioenergi global telah membawa peningkatan perhatian terhadap jenis komoditi ini. Perhatian berlebihan ini tidak telepas dari implikasi luas yang mungkin dapat ditimbulkan. Beberapa perhatian tersebut antara lain emisi net gas rumah kaca, perubahan tata guna lahan, konservasi keanekaragaman hayati, dampak terhadap ketahanan pangan dan dampak social-ekonomi masyarakat. Untuk mempertahankan bandul kesetimbangan dari dampak negative yang mungkin ditimbulkan, berbagai hal perlu dilakukan untuk menjamin aspek keberlanjutan dari operasi bioenergy dari minyak nabati. Beberapa hal yang bias dilakukan antara lain : sertifikasi, akreditasi dan traceability- yang akan membawa dampak besar, baik positif maupun negative dalam perkembangan industry bioenergi.


Sumber : IEA Bioenergy Final Report, 2009

3.01.2014

Kawasan dengan Keanekaragaman Hayati terkaya di Dunia (1)


spesies kelinci rex peranakan (ilustrasi aj_private doc)
Keanekaragaman hayati berperan penting dalam mendukung berbagai bentuk hidup dan kehidupan. Hal ini terjadi melalui pembagian peran dan kemampuan dalam memberikan layanan terhadap komponen yang lain. Arti penting keanekaragaman hayati juga menyangkut kelangsungan spesies manusia di muka Bumi.
Konvensi internasional tentang Keanekaragaman hayati (The Convention on Biological Diversity) mendefinisikan keanekaragaman hayati sebagai : variabilitas /keanekaragaman diantara berbagai organisme hidup yang berasal dari semua sumber termasuk diantaranya, inter alia, daratan, lautan serta ekosistem air lainnya dan segala bagian yang menjadi suatu kerumitan ekologis termasuk didalamnya keragaman spesies, antar spesies, dan ekosistem.

Berbagai kawasan di seluruh dunia dikenal memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat tingggi. Setidaknya secara global dikenal 32 kawasan dengan kekayaan keanekaragaman hayati. Beberapa diantara kawasan tersebut berada pada daerah Hutan Hujan tropis seperti Amerika selatan, Asia Tenggara dan Afrika Tengah yang memang sangat kaya akan palsma nutfah. Indonesia yang terletak di Paparan Sunda (Sundaland atau maritime south east asia) merupakan salah satu kawasan yang paling kaya akan spesies flora dan fauna, hanya kalah dengan Brasil. Beberapa kawasan dengan Keanekaragaman Hayati terkaya di Dunia  (World Richest Biodiversity) yang lain adalah :

1.       Kalifornia, Amerika

Dicirikan dengan kondisi yang  panas, kering dan basah di musim dingin. Kawasan seluas 80.000 km2 mempunyai disparitas ekosistem yang kaya.

2.       Kepulauan Karibia

Merupakan sebuah kawasan keanekaragaman hayati dengan pengecualian. Terbentang pada gugusan pulau tropis bergunung –gunung sampai dengan padang kaktus.  Dua spesies paling kecil berada disini, ular dan burung.

3.       Hutan Pinus – Oak Madrean, Meksiko

Mencakup hampir seperempat spesies endemik di Meksiko. Merupakan kawasan yang bercirikan dataran tinggi, pegunungan dan jurang/canyon yang dalam.

4.       Amerika Tengah

Merupakan kawasan dengan keanekaragaman hayati ketiga terbesar di dunia. Amerika tengah memiliki beragam spesies endemik mulai dari bangsa monyet, berbagai jenis ampibi dan lebih dari 17.000 spesies tanaman.

5.       Hutan Pantai Atlantic, Brasil

Merupakan hutan tropis Amerika Selatan dengan lebih dari 20.000 spesies tanaman dengan hampir 40 persen diantaranya endemik. Sayang tekanan terhadap keberadaan hutan hanya menyisakan 10 persen  tutupan berupa hutan alami.

Maybe continued ...

 


tanks to IUCN for the whole adapted contents