Tampilkan postingan dengan label konservasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konservasi. Tampilkan semua postingan

5.05.2014

Keberlanjutan dan Isu lingkungan dalam Perdagangan Komoditi Minyak Nabati

minyak sawit (ilustrasi@net)

Pasar minyak nabati dunia saat ini terbagi dalam dua golongan besar (i) bahan pangan yang mencapai 80% dari total produksi dan (ii) pemenuhan kebutuhan industry. Aspek terbesar pendorong  pertumbuhan kebutuhan minyak nabati masih pada pemenuhan kebutuhan bahan pangan meski perkembangan kebutuhan sebagai sumber energy alternative/biofuel/bioenergy semakin penting. termasuk didalamnya biodiesel. Termasuk dalam kebutuhan bionergi tersebut adalah pemanfaatan minyak nabati seperti minyak sawit, minyak kedelai dan minyak jarak/jatropa sebagai sumber bahan bakar nabati (biodiesel).

Sebagian besar masyarakat dunia telah menjadikan alasan bioenergi sebagai kambing hitam terhadap meningkatnya harga pangan dunia. Selain itu konversi lahan untuk produksi minyak nabati di berbagai negara tropis dunia dianggap sebagai salah satu katalisator kerusakan hutan. Awam diketahui bahwa negara negara tropis dunia merupakan kawasan dengan keanekaragaman hayati paling besar di dunia. Kerusakan dan tekanan terhadap alih fungsi lahan di kawasan ini membawa dampak yang lebih nyata. Prinsip dasar aspek keberlanjutan dari bioenergi adalah potensinya dalam menyimpan gas rumah kaca (carbon saving and carbon sinking) dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar fosil.Hal hal  ini menyebabkan isu lingkungan dan keberlanjutan dari pemanfaatan bahan bakar nabati menjadi dipertanyakan.

Lebih lanjut latar belakang yang terjadi sebenarnya adalah  sangat beragam dan rumit. Pangsa pasar komoditi minyak nabati dan pangan pada umumnya dipengaruhi banyak factor. Hal utama yang menjadi dampak kenaikan tersebut adalah fluktuasi/kenaikan harga minyak bumi dan ulah nakal spekulan komoditi pangan dan penjangnya rantai dstribusi dalam perdagangan yang semakin mengglobal. Secara nyata telah dengan jelas tergambar bahwa biaya dasar dari bahan baku mempunyai peran yang relative kecil dalam penentuan harga jual komoditi pangan di negara berkembang. Yang kemudian lebih berpengaruh terhadap komoditi tersebut adalah isu isu lain yang sama sekali tidak terkait dengan bahan baku komoditi sebagaimana tersebut diatas.

Pasar minyak nabati dunia saat ini sedang mengalami perubahan mendasar, dan akan menghadapi tantangan yang tidak ringan dengan berbagai peluang besar yang mengiringi. Perkembangan standar hidup di berbagai negara berkembang, perkembangan populasi yang diikuti perubahan pola diet/asupan gizi dan ekspansi kebutuhan bioenergi merupakan kecenderungan utama/tren yang akan memegang peran dalam perkembangan sector komoditi ini dimasa mendatang.

Perkembangan nyata kebutuhan bioenergi global telah membawa peningkatan perhatian terhadap jenis komoditi ini. Perhatian berlebihan ini tidak telepas dari implikasi luas yang mungkin dapat ditimbulkan. Beberapa perhatian tersebut antara lain emisi net gas rumah kaca, perubahan tata guna lahan, konservasi keanekaragaman hayati, dampak terhadap ketahanan pangan dan dampak social-ekonomi masyarakat. Untuk mempertahankan bandul kesetimbangan dari dampak negative yang mungkin ditimbulkan, berbagai hal perlu dilakukan untuk menjamin aspek keberlanjutan dari operasi bioenergy dari minyak nabati. Beberapa hal yang bias dilakukan antara lain : sertifikasi, akreditasi dan traceability- yang akan membawa dampak besar, baik positif maupun negative dalam perkembangan industry bioenergi.


Sumber : IEA Bioenergy Final Report, 2009

1.15.2014

Konservasi Energi dan Sumber Daya Alam



Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi, dijelaskan bahwa konservasi energi merupakan sebuah upaya sistematis, terencana, dan terpadu guna melestarikan sumberdaya energi dalam negeri serta meningkatkan efisiensi pemanfatannya. Selanjutnya menurut pasal 1, ayat 18 Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, konservasi sumber daya alam didefinisikan sebagai sebuah proses pengelolaan sumber daya alam untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana serta kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya .
Beberapa kegiatan Konservasi Energi dan Sumber Daya Alam yang dapat kita laksanakan baik sebagai individu maupun sebagai anggota komunitas, masyarakat maupun perusahaan antara lain:
a)       Melakukan kegiatan/upaya penghematan dalam menggunakan energi dan bahan bakar sehingga dapat mengurangi timbulnya Gas Rumah Kaca.
b)       Melakukan kegiatan/upaya penghematan dalam menggunakan air untuk kebutuhan domestik seperti Mandi, Cuci, Kakus (MCK), termasuk melakukan penggunaan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle) terhadap limbah cair domestik sehingga terdapat penurunan jumlah pemakaian air baku.
c)        Melakukan kegiatan/upaya efisiensi bahan baku SDA sehingga terjadi penurunan intensitas penggunaan bahan baku.
d)       Melakukan upaya yang terkait dengan keanekaragaman hayati sehingga dapat mempertahankan dan atau meningkatkan keanekaragaman hayati, seperti:
e)       Melakukan pendampingan masyarakat sebagai upaya menjaga zona perlindungan hutan. 
f)         Melakukan pemberdayaan masyarakat desa hutan berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan dan lingkungan.
g)       Membuat taman keanekaragaman hayati (taman kehati).
h)       Melakukan perlindungan satwa dan puspa bersama masyarakat
i)         Melakukan pembuatan sumur resapan dan penampungan air hujan.
j)          Melakukan pelatihan pembibitan dan penghijauan tanaman bersama masyarakat.
Berbagai kegiatan konservasi energi dan sumber daya alam telah berhasil dilaksanakan oleh berbagai pihak di seluruh wilayah di Indonesia. Beberapa kegiatan tersebut melibatkan perusahaan baik dalam skala kecil,
sedang ataupun besar. Kegiatan tersebut dalam pelaksanaannya dengan menggandeng kelompok masyarakat dalam :
a)       Penanaman mangrove
b)       Penebaran bibit ikan
c)        Pembuatan rumah bibit
d)       Pelaksanaan kajian keanekaragaman hayati
e)       Program reboisasi dan alih komoditi
f)         Pelestarian satwa langka, seperti: suaka burung elang
g)       Pengembangan kerajinan eceng gondok
h)       Perlindungan terumbu karang& penangkaran penyu.
i)         Penghijauan jalan tol
j)         Pembudidayaan tanaman langka
k)       Pengembangan biodiversity, misalnya: taman kehati
l)         Penggunaan lampu hemat energi
m)     Car pooling, dan
n)       Memfasilitasi upaya bike to work (bersepeda ke kantor).
Terkait dengan upaya konservasi keanekaragaman hayati, beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain :
·         Kajian tentang keanekaragaman hayati sebelum dan sesudah dilaksanakan suatu kegiatan / perusahaan;
·         Pelestarian flora dan fauna endemik, langka, dan dilindungi undang-undang;
·         Penangkaran fauna;
·         Perlindungan flora; dan
·         Konservasi mangrove, terumbu karang dan padang lamun.

taken from www.kemenlh.go.id

8.19.2013

Peran Keanekaragaman Hayati dalam Menjaga Kedaulatan Pangan


Keanekaragaman hayati merupakan sumber utama bahan pangan seluruh umat manusia. Tanpa keanekaragaman hayati umat manusia tidak akan bertahan hidup dan punah laksana dinsaurus. Sejak pola hidup bercocok tanam berkembang dalam rentang kebudayaan umat manusia sekitar 12.000 tahun yang lalu, lebih dari 7.000 jenis tanaman dan beberapa ratus spesies hewan telah digunakan sebagai sumber utama konsumsi manusia.

Keseimbangan keanekaragaman hayati juga berperan dalam mempertahankan keseimbangan suatu ekosistem. Berbagai jenis burung maupun ular membantu mengurangi populasi serangga dan beberapa hewan yang menjadi vektor berbagai penyakit seperti kutu dan tikus. Mereka juga berfungsi mengontrol hama yang dapat merusak produksi pertanian. Berbagai jenis makanan pokok manusia seperti padi, gandum jagung diserbukkan oleh beragam jenis serangga, burung, kelelawar dan hewan lainnya.

Berbagai jenis organisme hidup lainnya berguna menjaga kesuburan tanah melalui metabolisme yang ada. Sekali lagi semua itu terjadi hanya apabila keseimbangan keanekaragaman hayati senantiasa terjaga. Keanekaragaman genetik yang ada membantu berbagai organisme untuk tidak berkembang menjadi penyakit dan hama.

Sebenarnya peningkatan kedaulatan pangan dan keanekaragaman hayati bisa berjalan seiring sejalan. Salah satu contoh pembangunan kembali perikanan global (tangkapan laut) dapat melibatkan kegiatan konservasi laut. Penurunan hasil laut yang terjadi secara global dapat ditanggulangi melalui kegiatan seperti larangan penangkapan, pembatasan (kuota) maupun menunjukan kawasan terlarang untuk menghindari penangkapan yang berlebihan.

Sepanjang sejarah umat manusia, alam telah memberikan segala yang mereka punya, memberi kecukupan makan, merawat dan melindungi kehidupan manusia. Akan tetapi saat ini kondisi yang ada sudah berbalik arah. Kita perlu memberikan perlindungan, perawatan dan kecukupan kebutuhan kepada alam untuk mendapatkan jaminan kesehatan dan harapan masa depan sampai generasi mendatang.



Compillated from www.iucn.org,

7.18.2013

Keanekaragaman hayati dan kedaulatan pangan, dua kawan karib seiring sejalan


Keanekaragaman hayati merupakan salah satu aspek esensial terhadap ketahanan pangan, kedaulatan pangan, asupan nutrisi serta jaring pengaman dalam masa krisis bagi ratusan juta rumah tangga miskin di seantero jagat. Keanekaragaman hayati menyediakan kesempatan memperoleh pendapatan dan penyediaan bahan pangan melalui proses bercocok tanam/pertanian. Berbagai hasil dari pertanian tersebut menyediakan asupan energi yang lebih cukup untuk konsumsi maupun sebagai komoditi dagang yang menguntungkan

Keseimbangan keanekaragaman hayati juga berperan dalam mempertahankan keseimbangan suatu ekosistem. Berbagai jenis burung maupun ular membantu mengurangi populasi serangga dan beberapa hewan yang menjadi vektor berbagai penyakit seperti kutu dan tikus. Mereka juga berfungsi mengontrol hama yang dapat merusak produksi pertanian. Berbagai jenis makanan pokok manusia seperti padi, gandum jagung di serbukkan oleh beragam jenis serangga, burung, kelelawar dan hewan lainnya. Berbagai jenis organisme hidup lainnya berguna menjaga kesuburan tanah melalui metabolisme yang ada. Sekali lagi semua itu terjadi hanya apabila keseimbangan keanekaragaman hayati senantiasa terjaga. Keanekaragaman genetik yang ada membantu berbagai organisme untuk tidak berkembang menjadi penyakit dan hama.

Sayangnya, perkembangan pertanian skala industri telah merusak segala tananan yang telah ada. Suatu proses degradasi dramatis dari keanekaragaman genetik terjadi pada spesies hewan dan tanaman yang digunakan sebagai sumber bahan pangan. Saat ini tidak lebih dari sepuluh jari tangan kita untuk menyebut spesies yang digunakan sebagai sumber utama (90%) pangan manusia. Sebagai akibat dari penyeragaman industri pertanian dan makanan, ratusan jenis hewan ternak dan beraragam varietas tanaman pertanian yang tidak mempunyai nilai komersil berlahan-lahan menghilang. Kepunahan itu diikuti dengan hilangnya potensi kekayaan plasma nutfah/genetik yang sangat berharga.

Sejalan dengan kebutuhan pangan dunia yang semakin meningkat secara eksponensial selama beberapa dekade terakhir, sistem pertanian kita saat ini perlu segera diubah tanpa menghambat keseimbangan keanekaragaman hayati yang sangat kita butuhkan. Laporan terakhir dari organisasi internasional yang berkutat dalam konservasi alam (IUCN), menyebutkan bahwa ada 4.178 spesies dari sekitar 44.838 spesies tanaman dan hewan yang dimanfaatkan dalam bidang pertanian dan perikanan berada dalam keaadaan terancam (punah).

Sebenarnya peningkatan kedaulatan pangan dan keanekaragaman hayati bisa berjalan seiring sejalan. Salah satu contoh pembangunan kembali perikanan global (tangkapan laut) dapat melibatkan kegiatan konservasi laut. Penurunan hasil laut yang terjadi secara global dapat ditanggulangi melalui kegiatan larangan penangkapan, pembatasan (kuota) maupun menunjukan kawasan terlarang untuk menghindari penangkapan yang berlebihan.


Compillated from www.iucn.org,

2.21.2013

Kawasan Bernilai Penting Bagi Konservasi Keanekaragaman Hayati



Konvensi internasional tentang Keanekaragaman hayati (the convention on Biological Diversity) mendefinisikan keanekaragaman hayati sebagai : variabilitas /keanekaragaman diantara berbagai organisme hidup yang berasal dari semua sumber termasuk diantaranya, inter alia, daratan, lautan serta ekosistem air lainnya dan segala bagian yang menjadi suatu kerumitan ekologis termasuk didalamnya keragaman spesies, antar spesies, dan ekosistem.
Konservasi keanekaragaman hayati tidak bisa terlepas dari penyelamatan kawasan bernilai penting bagi keanekaragaman hayati. Kawasan dengan keanekaragaman hayati yang bernilai sangat penting antara lain :

  • Kawasan yang mendukung habitat /spesies /genotif yang endemik, jarang maupun yang mengalami penurunan populasi; 
  •  Kawasan yang mendukung genotif dan spesies dimana kehadirannya dibutuhkan  oleh spesies lain; 
  •  Area yang berlaku sebagai buffer/ penyangga, habitat yang berkaitan, atau koridor ekologi atau area yang berperan penting dalam menjaga kualitas lingkungan hidup; 
  •  Area yang mempunyai penggunaan penting secara secara musiman atau berperan secara ktitis dalam migrasi; 
  •  Kawasan yang mendukung habitat, populasi spesies, ekosistem yang labil, spesies yang terancam dan sulit untuk pulih; 
  •  Area yang mendukung wilayah lain yang lebih luas yang pada awalnya merupakan sebuah habitat tidak terganggu; Kawasan yang berlaku sebagai area pengungsian bagi keanekaragaman hayati selama perubahan iklim maupun kelanjutan proses evolusi; 
  •  Kawasan yang mendukung keanekaragaman hayati dimana migrasi sulit untuk terjadi, termasuk habitat yang memerlukan waktu lama untuk membangun karakteristik; dan 
  •  Area yang saat ini miskin secara keanekaragaman hayati namun mempunyai peluang untuk mempunyai kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi melalui intervensi (manusia) secukupnya.

Pertanyaan seanjutnya, seberapa penting kehadiran kita sebagai individu dan komponen kenanekaragaman hayati berperan dalam habitat dan ekosistem kita?

2.24.2012

BELAJAR KEBERHASILAN KONSERVASI HUTAN DI KOSTA RIKA (Bagian 1)

Usaha konservasi hutan melalui pengenalan pengelolaan kehutanan dan perkayuan yang berkelanjutan mungkin akan membantu menciptakan lapangan kerja dan pendapatan. Studi kasus ini menghadirkan kegiatan konservasi hutan di bagian utara negara Costa Rika (COSEFORMA), yang telah membawa pengaruh nyata pada peningkatan taraf hidup masyarakat pedesaan (rural) di negara tersebut.


Pengantar
Kosta Rika merupakan suatu negara kecil yang berada di Amerika Tengah, di antara negara Nicaragua dan Panama dengan total penduduk sebanyak 3,9 juta (2002). Ekonomi Kosta Rika relatif stabil yang bergantung kepada sektor pariwisata, pertanian, dan ekspor produk elektronik. Total GDP negara ini sebesar US$ 16,8 triliun atau sebesar US$ 8.840 per kapita (2002). GDP tumbuh secara konstan 4% pada kurun waktu 1990-2002, tetapi pendapatan perkapita turun pada angka 2,7%. Meskipun kemiskinan telah jauh berkurang selama 15 tahun terakhir, namun sekitar 22% penduduk masih hidup dibawah garis kemiskinan.

Sumber daya alam yang menjadi andalan negara Costa Rika antara lain bijih logam dan non logam seperti belerang, kapur, emas, perak, tenaga listrik, produk kehutanan dan perikanan. Produk pertanian yang paling penting antara lain pisang, kopi, gula, padi, kakao dan barang kebutuhan sehari hari. Pertanian menjadi sangat penting untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan memenuhi pangsa ekspor yang menciptakan banyak lapangan kerja. Akan tetapi, turunnya harga komoditas pertanian seperti kopi dan pisang telah berpengaruh banyak pada sektor pertanian yang menyebabkan peningkatan kemiskinan dan pengangguran di kawasan pedesaan.

Selain itu, pengelolaan kehutanan yang tidak berkelanjutan serta meningkatnya konversi hutan telah memicu terjadinya degradasi kualitas tanah yang berpotensi menurunkan margin keuntungan dan pendapatan dari kegiatan pertanian. Saat itu tingkat pengangguran di Kosta Rika mencapai angka 6% (1999). Tanpa reformasi ekonomi dan kebijakan yang imaginatif, niscaya mustahil mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran.

Kosta Rika memiliki hutan alami yang sangat luas, termasuk diantaranya beberapa spesies tanaman berharga seperti mahoni, eboni, resewood dan cedar. Lebih dari 25% luas wilayah Kosta Rika merupakan kawasan lindung sebagai hutan cadangan dan taman nasional yang menarik wisatawan (eco-tourism) dari seluruh dunia. Bagaimanapun, luas hutan negara tersebut berkurang secara nyata dalam beberapa dekade terakhir akibat meluasnya lahan pertanian, padang penggembalaan ternak, penebangan liar serta eksploitasi hutan secara berlebihan.

Meski kemudian ada kebijakan insentif fiskal dari pemerintah setempat untuk mendorong proyek penghutanan kembali (reforestation) dan proyek perlindungan hutan, nyatanya sebanyak 60% tutupan hutan di Kosta Rika telah hilang antara tahun 1950 sampai dengan 1984. Kosta Rika telah menjadi negara dengan persentase hutan hujan paling kecil di kawasan Amerika Tengah (critical point had come!) . *_*

www.maszoom.blogspot.com adaptasi dari beberapa sumber

10.12.2011

Akhir Cerita Hutan Sumatera di Lima Puluh Kota

Lima Puluh Kota merupakan salah satu kawasan yang berfungsi sebagai paru-paru dunia. Dengan luas lahan berupa hutan mencapai 60% (sebanyak 43% berupa hutang lindung, 9% hutan produksi dan 8% hutan suaka alam wisata/HSAW), kawasan ini mendaur ulang karbondioksida yang dihasilkan warganya menjadi oksigen yang tidak hanya dibutuhkan warganya tapi juga sangat diperlukan warga Malaka maupun Singapura. Di sinilah rupanya paru-paru dunia itu ternyata berada.


Dengan kekayaan yang sedemikan besar baik hayati maupun non hayati yang ada di perut bumi, hutan sumatera di Lima Puluh Kota menghadapi tekanan degradasi yang bertubi-tubi. Kandungan bahan tambang seperti emas, batubara, mangan, timah hitam, bijih besi yang sebagian besar berada di kawasan hutan telah menarik minat banyak pemodal untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi. Selain itu ditunjang dengan alam yang subur dan harga komoditas perkebunan yang semakin kompetitif, konversi hutan menjadi kawasan perkebunan seperti gambir, karet, sawit, kakao dan sejenisnya menjadi sesuatu yang sangat menggiurkan. Tak ubahnya kucing yang lama tak sua dengan ikan asin.
Gambaran tersebut nyata terlihat dalam peninjauan lapangan yang dilakukan Bidang Pemulihan dan Konservasi Sumber Daya Alam BLHKP kabupaten Lima Puluh Kota baru-baru ini. Inspeksi ini dimulai dari kawasan konservasi seputar bandar irigasi Kapalo Banda Taram. Kawasan yang pernah sohor sebagai tempat wisata anak muda namun belakangan dinyatakan tertutup untuk umum tersebut terlihat tidak terawat dan terbengkalai. Hebatnya lagi, deru suara Chain Shaw meraung-raung di celah-celah bukit diiringi kepul asap hasil pembakaran lahan yang jelas-jelas kawasan konservasi. Beberapa pohon nampak meranggas setelah terbakar, jelas sekali terlihat degradasi hutan pada kawasan ini.
Hutan yang rusak mempunyai konsekuensi pada terbatasnya area tangkapan air hujan. Penjarahan hutan menyebabkan hutan kehilangan kemampuannya untuk menyimpan air. Tidaklah mengherankan apabila kemudian terjadi anomali pada debit bandar irigasi Kapalo Banda Taram. Di musim hujan banjir mengintai seluruh warga yang berada di sekitar daerah aliran sungai. Hal yang kontras terjadi manakala jatuh musim kemarau, air menjadi sangat terbatas. Lebih banyak batu yang berada di sungai daripada air.
Kondisi ini hanya secuil dari pelik dan rumitnya mempertahankan eksistensi hutan sumatera di Lima Puluh Kota. Ekplorasi dan eksploitasi pada muka bumi dan perut bumi ternyata telah mencederai paru-paru bumi itu sendiri. Masih mungkinkah bumi bertahan hanya dengan satu paru-parunya? Apabila hal ini terus terjadi mungkin inilah akhir cerita hutan Sumatera di Lima Puluh Kota.
maszoom@limapuluhkota