Tampilkan postingan dengan label perubahan iklim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perubahan iklim. Tampilkan semua postingan

11.28.2016

Agrikultur Dan Perubahan Iklim Global


Ilustrasi Kegiatan Agrikultur
Agrikultur tidak hanya menjadi aktivitas mendasar manusia yang berada dalam resiko perubahan iklim, aktivitas ini juga merupakan pendorong dari perubahan lingkungan dan perubahan iklim itu sendiri.  Sektor ini mempunyai dampak yang sangat besar terhadap sumber daya air dan lahan. Secara global, 1,4 milyar hektar lahan subur digunakan untuk budidaya pertanian dan 2,5 milyar hektar lainnya digunakan untuk kegiatan peternakan. Selain itu, sekitar 4 milyar hektar merupakan hutan dengan lima persen diantaranya merupakan hutan tanaman. Dua milyar ton biji-bijian dihasilkan secara global pertahun yang diperuntukan sebagai bahan pangan dan pakan, menyediakan dua pertiga total masukan protein bagi seluruh umat manusia. Sekitar sepuluh persen total kebutuhan sereal dunia dipenuhi melalui perdagangan secara internasional. Lebih lanjut, sekitar 150 juta ton ikan dan produk perairan lainnya dikonsumsi umat manusia pertahunnya. Produk perairan berkontribusi sebesar 50 persen dari total masukan protein umat manusia, dan pada beberapa pulau kecil dan negara-negara berkembang angka tersebut cenderung lebih besar.

Selain menggunakan lahan secara masif, agrikultur juga memanfaatkan sumber daya air dalam skala yang sangat besar. Lebih dari 200 juta hektar lahan subur telah dilengkapi dengan sistem irigasi, dengan memanfaatkan hampir 2.500 milyar meter kubik air pertahunnya. Kebutuhan air ini berasal dari aquifer, danau maupun sungai dan mencapai hampir 75 persen pemenfaatan sumber daya air oleh umat manusia. Sistem irigasi menjamin keberlanjutan sistem suplai bahan pangan, sekitar 40 persen dalam kasus produksi sereal. Akhirnya, input bahan kimia dalam jumlah yang sangat signifikan diperlukan untuk mencapai hasil produksi yang tinggi dalam sistem yang intensif. Diantara bahan kimia tersebut adalah nitogen, dengan penggunaan mencapai 100 juta ton pertahun.

Sebagai konsekuensi dari aktivitas dalam skala yang sangat besar ini, agrikultur merupakan kontributor utama terhadap degradasi lahan, dan lebih khusus lagi terhadap emisi gas rumah kaca. Kegiatan ini mengemisikan 13-15 milyar ton CO2e per tahun, yang merupakan sepertiga total emisi yang dilepaskan dari seluruh aktivitas umat manusia. Dari keseluruhan aktivitas manusia, agrikultur bertanggung jawab terhadap 25 persen emisi karbon dioksida (sebagian besar diantaranya terjadi dari kerusakan hutan), 50 persen emisi metana (dari kegiatan pertanian lahan basah/padi dan fermentasi enterik), dan lebih dari 75 persen emisi N2O (sebagian besar dari penggunaan pupuk).

Jika emisi gas rumah kaca-termasuk yang berasal dari kegiatan agrikultur, tidak terkontrol dalam beberapa dekade mendatang, maka peningkatan konsentrasi mereka di atmosfer diproyeksikan akan memperkuat terjadinya perubahan iklim di abad ke 21. Jika interferensi antropogenik berbahaya terhadap sistem iklim perlu dihindari dalam beberapa dekade mendatang dan pemanasan atau peningkatan suhu global masih dalam batas yang dapat diterima (dalam hal ini adalah 20 pada akhir abad ini), maka diperlukan usaha untuk menstabilisasi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Hal ini memerlukan pengurangan emisi gas rumah kaca global secara signifikan, dimulai dari saat ini dan paling lambat antara tahun 2020-2030. 

Reference : Climate Change, Adaptation and Mitigation, Challenge and Opportunities In The Food Sector, FAO, Rome, Italy, 2012.

10.17.2014

Seoul, Best Practise Kebijakan Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Transportasi

Ubah Perilaku (UNEP, 2008)


Dalam beberapa decade terakhir, kita yang hidup di era modern menjumpai sebuah perubahan iklim yang tidak biasa sebagai akibat pemanasan global. Berbagai kejadian seperti  angin rebut, badai, kekeringan, suhu eksterm, banjir, longsor dan gagal panen menjadi lebih sering terjadi dan sudah menjadi menu harian merbagai media . Gaung idiom pemanasan global menggema di seantero jagad, dari sunyi dan gersang Gurun Sahara di Afrika sampai dengan Alice Spring, sebuah kota kecil tepat di jantung Australia. Seluruh dunia telah sepakat bahwa gas rumah kaca merupakan tersangka utama seluruh kejadian yang ada.

Emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global terkait langsung dengan seluruh aktivitas yang kita lakukan sehari hari. Porsi terbesar emisi gas rumah kaca dihasilkan dari sektor hutan - penggunaan lahan - alih fungsi lahan (LULUCF), sektor energi dan sektor transportasi. Dampak pemanasan yang semakin dirasakan mendorong kita untuk merubah perilaku menuju keseimbangan emisi gas rumah kaca. Perubahan ini dimulai dari individu, komunitas, pemerintah setempat sampai dengan kebijakan nasional. Perubahan iklim yang terjadi memaksa kita melakukan adaptasi dan mitigasi demi keberlanjutan hidup ras manusia di muka bumi

Peran besar sektor transportasi dalam menyumbang emisi gas rumah kaca menyadarkan para pembuat kebijakan di berbagai kota di dunia. Peralihan kebijakan melalui penggunaan transportasi massal yang lebih ramah lingkungan seperti bus, trem dan kereta api semakin berkembang dan menjadi tren. Di kawasan benua Asia, China dengan Maglev dan Jepang dengan Shinkansennya telah lebih dulu beraksi, disusul kemudian Seoul di semenanjung korea.
Mengiringi berbagai kesuksesan yang telah diraih, kota Seoul di Korea Selatan berusaha menunjukan kepada warganya bahwa ada banyak jalan dan cara untuk berkeliling kota selain dengan mobil pribadi. Demi meningkatkan kualitas udara, mengurangi pemakainan bahan bakar minyak dan penghematan energi, secara mingguan mereka menyelenggarakan minggu tanpa berkendara (car free week). Secara akumulasi, dalam satu tahun dua juta kendaraan tetap di garasi, dengan demikian mengurangi emisi sebesar 10 persen setara 2 juta ton CO.

Kualitas udara yang meningkat pada gilirannya meningkatkan kesehatan warganya dan menghemat jutaan dolar biaya pengobatan. Dengan dukungan berbagai pihak secara sukarela,  program tersebut dirasakan cukup berhasil. Dengan pelaksanaan program secara mingguan, memungkinkan warga yang berminat mencari moda transport alternatif lain yang seusai dalam usaha menuju atau dari tempat kerja. Selanjutnya warga yang berpartisipasi akan mendapat insentif dalam bentuk diskon pembelian bahan bakar, kartu bebas parkir atau gratis pencucian kendaraan. Warga diharapkan untuk sesering mungkin turut berpartisipasi, sebagai misal mereka yang hanya berpartispasi sebanyak tiga hari atau kurang akan kehilangan hak mendapatkan insentif.

Selain menjadi lebih ramah terhadap emisi gas rumah kaca, perubahan perilaku tersebut juga menjadikan warganya lebih sehat dan menjadi penggerak roda perekonomian warga kota. Lebih dari itu, perubahan perilaku menjadi jalan bagi konservasi sumber daya alam dengan memaksimalkan kearifan, karakter dan potensi local yang ada.


Inspired by Kick the Habits, UNEP, 2008
 

10.22.2013

Nilai Keraifan Lokal Rumah Adat Tradisional, Konsep Hunian Ramah Lingkungan yang Sebenarnya



Beragam aktvitas manusia, langsung atau tidak langsung berperan dalam meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca yang ada di atmosfer. Efek selanjutnya dikenal dengan pemanasan global, keadaan dimana suhu bumi secara rata- rata mengalami peningkatan. Dalam konsep lebih luas, bumi disebutkan telah mengalami perubahan iklim, hal yang sebelumnya tidak terjadi sebelum revolusi industri hadir pertengahan abad 18 di tanah Inggris.
Peran sentral gas rumah kaca dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim menyadarkan banyak pihak akan perlunya perubahan gaya hidup (kick the habit). Salah satu yang populer dalam tren tersebut adalah berkembangnya konsep hunian/rumah tinggal ramah lingkungan, sebuah hunian dengan jejak emisi karbon yang minimal. Dengan mengadopsi konsep hunian ramah lingkungan, selain terkendalinya emisi gas rumah kaca, berbagai keuntungan baik materi maupun non materi akan didapatkan, mulai dari efisiensi biaya, peningkatan produktivitas kerja sampai dengan tercipta lingkungan hunian yang bersih, sehat, aman dan nyaman. Sebuah hunian ramah lingkungan paling tidak memiliki tiga ruang lingkup yang menjadi penekanan,yaitu : (1) peralatan dan perlengkapan; (2) sumber daya air dan energi dan (3) pengelolaan sampah.
Hebatnya kemudian, konsep hunian ramah lingkungan sebenarnya sudah mengakar dalam berbagai kebudayaan daerah di seluruh Indonesia. Konsep rumah adat yang menerapkan pemakaian bahan- bahan dari alam yang terbukti berkelanjutan merupakan salah satu wujud kearifan lokal warisan nenek moyang yang sangat membanggakan. Kita tahu bahwa material alam yang digunakan dalam berbagai rumah adat sangat cocok dengan iklim tropis yang cenderung panas dan lembab.
Salah satu contoh adalah konsep rumah gadang di ranah minang. Segala bahan yang digunakan dalam rumah gadang menurut konsep aslinya berasal dari alam dan dengan mudah terdaur ulang, mulai dari lantai dan rangka kayu, dinding bambu sampai dengan atap yang terbuat dari ijuk.
Pergeseran mulai terjadi di era modern dimana bahan – bahan yang digunakan mulai beralih kepada produk pabrikasi. Mulai dari rangka beton, dinding bata dan atap seng. Banyak segi mulai hilang dengan adanya peralihan material yang digunakan tersebut. Mulai dari kondisi mikroklimat yang berubah sampai dengan hilangnya ketahanan terhadap bencana alam seperti gempa (*_).
 

www.maszoom.blogspot.com
Adaptasi dari berbagai sumber

9.09.2013

Mengapa keanekaragaman hayati saat ini dalam masalah?


Eskalasi kepunahan dan krisis keanekaragaman hayati mengindikasikan bahwa saat ini alam tidak mampu lagi mengemban dan mendukung tekanan aktivitas manusia di seantero jagat. Setiap hari tekanan kepunahan berbagai spesies berlanjut dan 1000 kali lebih cepat dibanding yang terjadi secara alami.

Berbagai bentuk tekanan terhadap lingkungan bertanggung jawab terhadap krisis yang mendera keanekaragaman hayati planet bumi pada saat ini. Punahnnya spesies tertentu (yang menggangu kesimbangan ekosistem), kerusakan habitat, pembukaan lahan dan alih fungsi lahan, perubahan iklim global, polusi dan tersebarnya spesies asing adalah beberapa sebab diantaranya.

Akibat dari kondisi keanekaragaman hayati yang tidak lagi dalam keseimbangan, berbagai ekosistem di seluruh planet berada dalam tanda bahaya. Diantara ekosistem iti adalah terumbu karang yang meyediakan sumber pangan/protein, perlindungan dari badai, menyediakan lapangan kerja, sarana rekreasi dan sumber pendapatan lain saat ini merupakan salah satu ekosistem dengan kondisi yang paling parah. Saat ini hanya tersisa 30% terumbu karang yang berada dalam keadaan sehat dengan selebihnya telah mengalami kerusakan dan kita berpotensi kehilangan sumber pendapatan dari jasa lingkungan untuk hampir 500 juta orang di seluruh jagat.

Kepunahan berbagai spesies mahluk hidup juga menjadi pertanda nyata krisis keanekaragaman hayati yang terjadi pada saat ini, kondisi terparah semenjak dinosaurus punah hampir 65 juta tahun lalu. Dari 5.494 spesies mamalia yang saat ini diketahui, 78 diantaranya telah punah atau punah dari alam liar, 191 spesies berada adalam keadaan kritis, 227 spesies terancam dan 496 berada dalam keadaan rawan. Tidak hanya mamalia, kelas ampibi juga mengalami ha serupa, dengan 1.910 spesies dalam bahaya kepunahan dari 6.312 spesies yang ada. Secara keseluruhan dari 59.507 spesies yang dikenal, 19,265 diantaranya dalam keadaan terancam punah, sebuah angka yang membuat miris.

Akankah kita berdiam diri dengan kondisi yang ada?


inspiration coming from www.iucn.org,