Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

3.01.2014

Kawasan dengan Keanekaragaman Hayati terkaya di Dunia (1)


spesies kelinci rex peranakan (ilustrasi aj_private doc)
Keanekaragaman hayati berperan penting dalam mendukung berbagai bentuk hidup dan kehidupan. Hal ini terjadi melalui pembagian peran dan kemampuan dalam memberikan layanan terhadap komponen yang lain. Arti penting keanekaragaman hayati juga menyangkut kelangsungan spesies manusia di muka Bumi.
Konvensi internasional tentang Keanekaragaman hayati (The Convention on Biological Diversity) mendefinisikan keanekaragaman hayati sebagai : variabilitas /keanekaragaman diantara berbagai organisme hidup yang berasal dari semua sumber termasuk diantaranya, inter alia, daratan, lautan serta ekosistem air lainnya dan segala bagian yang menjadi suatu kerumitan ekologis termasuk didalamnya keragaman spesies, antar spesies, dan ekosistem.

Berbagai kawasan di seluruh dunia dikenal memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat tingggi. Setidaknya secara global dikenal 32 kawasan dengan kekayaan keanekaragaman hayati. Beberapa diantara kawasan tersebut berada pada daerah Hutan Hujan tropis seperti Amerika selatan, Asia Tenggara dan Afrika Tengah yang memang sangat kaya akan palsma nutfah. Indonesia yang terletak di Paparan Sunda (Sundaland atau maritime south east asia) merupakan salah satu kawasan yang paling kaya akan spesies flora dan fauna, hanya kalah dengan Brasil. Beberapa kawasan dengan Keanekaragaman Hayati terkaya di Dunia  (World Richest Biodiversity) yang lain adalah :

1.       Kalifornia, Amerika

Dicirikan dengan kondisi yang  panas, kering dan basah di musim dingin. Kawasan seluas 80.000 km2 mempunyai disparitas ekosistem yang kaya.

2.       Kepulauan Karibia

Merupakan sebuah kawasan keanekaragaman hayati dengan pengecualian. Terbentang pada gugusan pulau tropis bergunung –gunung sampai dengan padang kaktus.  Dua spesies paling kecil berada disini, ular dan burung.

3.       Hutan Pinus – Oak Madrean, Meksiko

Mencakup hampir seperempat spesies endemik di Meksiko. Merupakan kawasan yang bercirikan dataran tinggi, pegunungan dan jurang/canyon yang dalam.

4.       Amerika Tengah

Merupakan kawasan dengan keanekaragaman hayati ketiga terbesar di dunia. Amerika tengah memiliki beragam spesies endemik mulai dari bangsa monyet, berbagai jenis ampibi dan lebih dari 17.000 spesies tanaman.

5.       Hutan Pantai Atlantic, Brasil

Merupakan hutan tropis Amerika Selatan dengan lebih dari 20.000 spesies tanaman dengan hampir 40 persen diantaranya endemik. Sayang tekanan terhadap keberadaan hutan hanya menyisakan 10 persen  tutupan berupa hutan alami.

Maybe continued ...

 


tanks to IUCN for the whole adapted contents

6.19.2013

Kedaulatan pangan, lebih dari sekedar cita-cita kemerdekaan


Frasa kedaulatan pangan menjadi suatu tema yang sangat seksi dalam beberapa dekade terakhir di awal abad ke 21. Tema ini sebegitu menarik utamanya di negara-negara berkembang di kawasan Eropa, Amerika Latin, Afrika dan tentunya juga kita di Asia. Dalam kenyataannya, masalah ini tidak begitu menjadi topik menarik pada negara-negara berbahasa Inggris seperti USA, Australia maupun UK sendiri.

                Tema kedaulatan pangan pertama kali muncul pada tahun 1996 pada agenda World Food Summit (Pertemuan Tingkat Tinggi Pangan Dunia) yang digagas oleh FAO, sebuah badan dunia yang mengurusi masalah pangan. Adalah sebuah organisasi petani pemilik lahan La Via Campesian (LVC) dari Amerika Latin yang pertama kali menggagas ide tersebut.

Akibat perdagangan global, hidup dan mati petani di Amerika Latin sangat dipengaruhi subsidi ekspor bahan pangan dan bantuan pertanian di Amerka Serikat. Kebijakan pemerintah Amerika Serikat telah menjadi semacam dumping produk pangan (impor produk pangan dengan harga dibawah harga lokal, kebanyakan melaui mekanisme subsidi pemerintah) bagi petani kecil di Amerika Latin dan merupakan salah satu efek negatif liberalisasi perdagangan bebas sektor pangandan pertanian  yang digagas WTO.

Hal yang mirip terjadi dengan adanya perang dagang produk pertanian antara Indonesia dan China. Banjir produk buah dari daratan China diperkirakan terjadi melalui mekanisme yang sama. Hal yang kemudian menjadi lebih parah ketika produk buah lokal Indonensi seperti Salak, Kesemek dan Duku mengalami kesulitan untuk menembus pasar Negeri Tirai Bambu. Sementara produk impor buah dari China seprti jeruk dan anggur sebernarnya bukan tidak bisa diproduksi di dalam negeri.

Benang merah yang dapat ditarik dari fenomena ini adalah bahwa mempertahankan kedaulatan pangan ternyata sama beratnya merebut dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Perdangan global menjadikan semua negara sedemikian volatile dan fragile (rapuh) yang memerlukan proteksi menyeluruh dalam bentuk aplikasi kebijakan dari pemerintah yang lebih pro terhadap produk dan potensi lokal.
 
www.maszoom.blogspot.com
Contents adapted from FAO, Rome-Italy