A large population and densely populated regions, with a vast areas of wilderness that support the world's second highest level of biodiversity, whom richly endowed with natural resources.
4.18.2018
12.15.2017
11.30.2016
Karbon, Kerangka Dasar Pembentuk Kehidupan
![]() |
| Ilustrasi karbon |
Karbon merupakan pembentuk kerangka dasar kehidupan.
Banyak dari kita pernah mendengar kata kata tersebut, tetepi kurang memahami
apa makna sebenarnya dari pernyataan tersebut. Seluruh benda hidup tersusun
dari unsur unsur penyusunnya, dengan elemen paling berlimpah di alam adalah
oksigen, karbon, hidrogen, nitrogen, kalsium dan fosfor. Dari berbagai unsur
tersebut, karbon berperan penting dalam menyusun rangka dasar kehidupan melalui
kemampuannya bergabung dengan unsur lain menjadi komponen penting seperti gula,
pati, lemak dan protein. Bersama-sama, semua jenis senyawa karbon ini mencakup
hampir separuh massa maskhluk hidup.
Karbon juga ada dalam bentuk lain di atmosfer bumi,
tanah, lautan dan juga batuan kerak bumi. Manakala melihat bumi sebagai sebuah
sistem, maka seluruh komponen ini disebut sebagai pool karbon atau dalam sumber lain disebut stock atau reservoir
karbon karena fungsinya sebagai penyimpan cadanga karbon dalam jumlah besar.
Setiap pergerakan atau perpindahan karbon dari salah satu pool ke reservoir
yang lain dikenal sebagai fluxs
(aliran). Dalam sistem yang saling terhubung dan terintegrasi, fluxs
menghubungkan reservoir untuk secara bersama sama menghasilkan daur ataupun
umpanbalik.
Salah satu contoh terbaik sebuah siklus materi adalah
daur karbon yang terjadi di atmosfer. Karbon di atmosfer digunakan oleh
tumbuhan untuk menyusun massa tumbuhan melalui proses fotosintesis. Dalam skala
global, proses ini melibatkan tansfer karbon dalam jumlah besar dari satu pool (atmosfer) ke pool yang lain (tanaman). Seiring berjalannnya waktu,
tanaman terserbut mati dan meluruh menjadi bentuk karbon yang lain. Semua
proses tersebut mengalirkan karbon melalui daur dari berbagai pool dalam ekosistem dan melepaskan
kembali karbon tersebut ke atmosfer. Berbagai jenis daur karbon yang lain juga
terjadi misalnya yang terjadi di lautan.
Dalam skala waktu yang paling singkat dalam orde menit
atau detik, tanaman menangkap karbon dari atmosfer melalui proses fotosintesis
serta melepaskan kembali ke atmosfer melalui proses respirasi. Dalam skala
waktu yang lebih panjang, karbon dari tanaman mati terurai dan terbenam dalam
tanah, dan mungkin akan tetap seperti itu dalam kurun waktu, tahun, dekade atau
abad, sampai dengan tanaman mati tersebut terurai oleh mikroba dan dilepasakan
kembali ke atmosfer. Dalam skala waktu yang lebih tinggi, karbon yang berada
dalam tanah akan terendapkan dalam sedimen, mencegahnya untuk terurai dan
kemudian secara berlahan berubah menjadi minyak bumi, batubara atau gas seperti
yang sekarang kita pakai. Ketika kita membakar senyawa ini, maka kita
melepaskan kembali karbon yang telah tersimpan selama jutaan tahun kembali ke
atmosfer dalam bentuk karbon dioksida.
Daur karbon memiliki peran yang sangat besar dalam
kelangsungan fungsi dan kelanjutan segala kehidupan di planet bumi. Dalam skala
global, daur karbon memegang peran dalam mengatur iklim di bumi melalui
pengaturan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer. Karbon dioksida berperan
penting dalam gejala yang dikenal sebagai efek gas rumah kaca (greenhouse effect), melalui
pemerangkapan panas matahari oleh beberapa jenis gas yang berada di permukaan
bumi dan mencegahnya lepas keluar angkasa. Efek rumah kaca sendiri merupakan
sebuah fenomena alam yang sempurna, dan tanpanya bumi akan merupakan suatu
tempat yang sangat dingin dan tidak mungkin ditinggali makhluk hidup. Tetapi seperti
dengan kasus lain, terlalui banyak hal baik akan membawa konsekuensi buruk, dan
peningkatan konsentrasi gas rumah kaca secara tidak alami di atmosfer telah
menyebabkan planet bumi menjadi lebih panas.
Dalam beberapa tahun terakhir, karbon dioksida telah
menerima perhatian yang sangat besar terkait dengan peningkatan konsentrsinya
di atmosfer yang mencapai 30% lebih besar dari kondisi normal, dan angka
tersebut akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Para ilmuan telah
menunjukan bahwa kenaikan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer tersebut
terjadi sebagai akibat dari berbagai aktivitas manusia seperti pembakaran bahan
bakar fosil dan perusakan hutan yang dilakukan dalam kurun waktu 150 tahun
terakhir. Karena karbon dioksida merupakan gas rumah kaca, maka peningkatan
konsentrasinya di atmosefer dipercaya telah menyebabkan kenaikan suhu secara
global. Inilah penyebab utama terjadinya perubahan iklim, dan inilah alasan
utama meningkatknya ketertarikan terhadap karbon dan daurnya.
Dalam daur karbon reservoir bumi dapat berfungsi
ganda, sebagai sumber karbon ke atmosfer (source)
dan juga berfungsi sebagai penyimpan karbon (sink) yang diambil dari udara.
Jika kedua arah fluks karbon tersebut berada pada harga yang sama besar maka
daur karbon dinyatakan sebagai dalam kesetimbangan dan tidak ada perubahan ukuran dari reservoir
seiring perubahan waktu. Menjaga jumlah karbon dioksida di atmosfer dalam
jumlah tetap merupakan langkah tepat untuk menjaga kesetabilan temperatur rata
rata planet bumi. Akan tetapi, penggunaan bahan bakar fosil dan alih fungsi
hutan telah menjadikan aliran karbon ke atmosfer melebihi kemampuan alam untuk
menyimpan karbon melalui lautan, hutan dan sejenisnya, sehingga ukuran
reservoir karbon di atmosfer cenderung meningkat. Keadaan inilah yang saat ini
ditengarai sebagai penyebab meningkatnya suhu global pertanda terjadinya
perubahan iklim. Sejauh mana konsentrasi karbon dioksida akan meningkat dimasa
mendatang sangat tergantung kepada seberapa banyak karbon yang dilepaskan
manusia dan seberapa besar karbon yang
mampu diserap berbagai reservoir karbon alami planet bumi. Secara sederhana
semuanya akan sangat tergantung kepada proses daur karbon yang terjadi di alam.
Adapted from
Global Carbon Cycle, University of New Hamshire
Visit my blog at www.maszoom.blogspot.com
11.28.2016
Agrikultur Dan Perubahan Iklim Global
Agrikultur tidak hanya menjadi
aktivitas mendasar manusia yang berada dalam resiko perubahan iklim, aktivitas ini
juga merupakan pendorong dari perubahan lingkungan dan perubahan iklim itu
sendiri. Sektor ini mempunyai dampak
yang sangat besar terhadap sumber daya air dan lahan. Secara global, 1,4 milyar
hektar lahan subur digunakan untuk budidaya pertanian dan 2,5 milyar hektar
lainnya digunakan untuk kegiatan peternakan. Selain itu, sekitar 4 milyar
hektar merupakan hutan dengan lima persen diantaranya merupakan hutan tanaman.
Dua milyar ton biji-bijian dihasilkan secara global pertahun yang diperuntukan
sebagai bahan pangan dan pakan, menyediakan dua pertiga total masukan protein
bagi seluruh umat manusia. Sekitar sepuluh persen total kebutuhan sereal dunia
dipenuhi melalui perdagangan secara internasional. Lebih lanjut, sekitar 150
juta ton ikan dan produk perairan lainnya dikonsumsi umat manusia pertahunnya.
Produk perairan berkontribusi sebesar 50 persen dari total masukan protein umat
manusia, dan pada beberapa pulau kecil dan negara-negara berkembang angka
tersebut cenderung lebih besar.
Selain menggunakan lahan secara
masif, agrikultur juga memanfaatkan sumber daya air dalam skala yang sangat besar.
Lebih dari 200 juta hektar lahan subur telah dilengkapi dengan sistem irigasi,
dengan memanfaatkan hampir 2.500 milyar meter kubik air pertahunnya. Kebutuhan
air ini berasal dari aquifer, danau maupun sungai dan mencapai hampir 75 persen
pemenfaatan sumber daya air oleh umat manusia. Sistem irigasi menjamin
keberlanjutan sistem suplai bahan pangan, sekitar 40 persen dalam kasus
produksi sereal. Akhirnya, input bahan kimia dalam jumlah yang sangat
signifikan diperlukan untuk mencapai hasil produksi yang tinggi dalam sistem
yang intensif. Diantara bahan kimia tersebut adalah nitogen, dengan penggunaan
mencapai 100 juta ton pertahun.
Sebagai konsekuensi dari aktivitas
dalam skala yang sangat besar ini, agrikultur merupakan kontributor utama
terhadap degradasi lahan, dan lebih khusus lagi terhadap emisi gas rumah kaca. Kegiatan
ini mengemisikan 13-15 milyar ton CO2e per tahun, yang merupakan sepertiga
total emisi yang dilepaskan dari seluruh aktivitas umat manusia. Dari
keseluruhan aktivitas manusia, agrikultur bertanggung jawab terhadap 25 persen
emisi karbon dioksida (sebagian besar diantaranya terjadi dari kerusakan
hutan), 50 persen emisi metana (dari kegiatan pertanian lahan basah/padi dan
fermentasi enterik), dan lebih dari 75 persen emisi N2O (sebagian besar dari
penggunaan pupuk).
Jika emisi gas rumah kaca-termasuk
yang berasal dari kegiatan agrikultur, tidak terkontrol dalam beberapa dekade
mendatang, maka peningkatan konsentrasi mereka di atmosfer diproyeksikan akan
memperkuat terjadinya perubahan iklim di abad ke 21. Jika interferensi
antropogenik berbahaya terhadap sistem iklim perlu dihindari dalam beberapa
dekade mendatang dan pemanasan atau peningkatan suhu global masih dalam batas
yang dapat diterima (dalam hal ini adalah 20 pada akhir abad ini),
maka diperlukan usaha untuk menstabilisasi konsentrasi gas rumah kaca di
atmosfer. Hal ini memerlukan pengurangan emisi gas rumah kaca global secara
signifikan, dimulai dari saat ini dan paling lambat antara tahun 2020-2030.
Reference : Climate
Change, Adaptation and Mitigation, Challenge and Opportunities In The Food Sector, FAO, Rome, Italy, 2012.
9.06.2016
Penguatan Kelembagaan dalam Pengelolaan DAS Citarum Hulu
![]() |
| Sub DAS Citarik Sungai Citarum Hulu |
Buruknya kualitas dan kondisi lingkungan
SUB DAS Citarik akibat implementasi kebijakan pengelolaan yang tidak efektif, memerlukan
penangan segera dengan penerapan strategi yang tepat. Langkah pengelolaan yang
dapat ditempuh adalah :
1.
Penegakan hukum. Pelaksanaan penegakan
hukum yang tidak berpihak dilakukan terlebih dahulu terhadap berbagai
permasalahan paling krusial, seperti penanganan sumber-sumber pencemar baik
kalangan industri maupun domestik dan mengembalikan pemanfaatan daerah tangkapan
air (penggunaan lahan) sesuai dengan ketentuan.
2.
Penguatan kelembagaan. Penguatan
kelembagaan dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada semua pemangku
kepentingan berperan secara ramah lingkungan melalui kelompok, sehingga timbul
rasa memiliki yang lebih tinggi. Peningkatan koordinasi antar lembaga juga
dapat dilakukan dengan membentuk suatu lembaga superbody dengan kewenangan yang besar dalam satu daerah aliran
sungai, dan menjadi naungan bagi lembaga di bawahnya.
3.
Menyusun formulasi pengelolaan
pemanfaatan sumber daya alam dalam daerah aliran sungai secara terintegrasi
dalam kerangka ekosistem daerah aliran sungai. Menajemen daerah aliran sungai
terintegrasi harus berdasarkan karakteristik biofisik dan sosio-ekonomis lokal.
Dengan slogan satu daerah aliran sungai, satu perencanaan dan satu pengelolaan
terintegrasi.
4.
Implementasi kebijakan menyeluruh dalam
sebuah masterplan dengan analisa dan kerangka yang matang dengan memperhatikan
zonasi DAS Citarum (hulu, tengah dan hilir) secara integral.
Pengelolaan SUB DAS Citarik tidak bisa
dilepaskan dari pengelolaan Sungai Citarum secara keseluruhan sebagai satu
kesatuan daerah aliran sungai. Dalam perjalannya, pengelolaan holistik DAS
Citarum membagi kedalam tiga wilayah yaitu : Zona Citarum Hulu, Zona Citarum
Tengah, dan Zona Citarum Hilir. Ketiga zonasi pengelolaan tersebut
masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda sesuai dengan kondisi
ekosistemnya. Hal yang perlu dilakukan terhadap ketiga zona tersebut antara
lain :
1.
Pada zona hulu. Diperlukan koordinasi
yang bersifat permanen, kokoh dan terintegrasi dengan program yang jelas serta
terukur bersama top birokrasi pusat/daerah, pemangku kepentingan (stakeholder) dan lembaga sosial
masyarakat.
2.
Pada zona tengah. Zona pengelolaan
diperlukan optimasi pengendalian dampak dan tindak nyata yang terprogram,
termasuk pendidikan dan kampanye sadar lingkungan serta pemberdayaan masyarakat
sekitar. Perlu dilakukan peninjauan, penelaahan, dan kelengkapan aspek legal
(payung hukum) sebagai acuan action plan.
3.
Zona hilir. Zona ini ditandai dengan
pemanfaatan DAS Citarum sebagai sumber air irigasi dan sumber air baku air
minum. Zona hilir citarum merupakan area pertanian yang mencakup area irigasi
teknis seluas 300 ribu hektar di wilayah Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang dan
Indramayu. Zona citarum hilir juga menjadi sumber air bagi 80% kebutuhan air
baku Jakarta. Secara keseluruhan lebih dari 25 juta penduduk di Propinsi Jawa
Barat dan Ibukota Jakarta menggantungkan kepada Sungai Citarum.
Selain itu, pengelolaan SUB DAS Citarik
juga dapat dilakukan melalui pendekatan teknis antar lain dengan :
1. Pengelolaan
lahan non-vegetatif untuk konservasi tanah dan air, misalnya sumur resapan,
sempadan, sengkedan, terasering, cekdam, perlindungan sempadan sungasi, penahan
aliran dan saluran.
2. Pengelolan
lahan secara vegetatif melalui penghijauan dan reforestasi.
3. Pendekatan
agronomi pengelolaan agrikultur sesuai kemiringan dan kontur lahan.
4. Aplikasi
manajemen dalam pengelolaan daerah aliran sungai melalui perencanaan,
implementasi dan monitoring-evaluasi secara ketat.
8.14.2016
Pertumbuhan Ekonomi, Pemelaratan atau Bunuh Diri Ekologis?
Umat manusia mengahadapi tantangan
yang mungkin tidak pernah diperkirakan oleh generasi sebelumnya. Ada pemahaman
umum bahwa ekosistem bumi tidak akan lagi mampu untuk menjaga aktivitas ekonomi
dan konsumsi material pada tingkat pemanfaatan seperti sekarang ini. Pada waktu
yang bersamaan, aktivitas ekonomi secara global sebagaimana diukur oleh Produk
Global Kotor (GWP), tumbuh sekitar empat persen pertahun, yang berkorelasi
dengan peningkatan dalam ukuran waktu selama 18 tahun. Salah satu faktor yang
mendorong perkembangan ini adalah adanya ledakan pertumbuhan populasi dunia. Pada
tahun 1950, hanya terdapat 2,5 milyar manusia di muka bumi, jumlah tersebut
berlipat menjadi hampir 6 milyar pada akhir milenium, dan diperkirakan akan
semakin berlipat menjadi sekitar 10 milyar pada pertengahan abad ini. Secara
signifikan peningkatan konsumsi energi dan material perkapita berpengaruh
terhadap sitem ekologis, melebihi kecepatan pertumbuhan populasi masyarakat
bumi itu sendiri. Suatu kondisi ekonomi yang tidak dapat balik (irreverseible) sepertinya adalah sebuah
keniscayaan manakala menghadapi dan berbenturan dengan keterbatasan ekosfere.
Pendekatan konvensional dalam pembangunan telah secara sukses berhasil
mengembangkan aktivitas dan pertumbuhan ekonomi sebagai agenda terdepan bagi
hampir semua negara di dunia. Tujuan jangka panjang pembangunan ekonomi ini adalah
untuk mengintegrasikan sistem ekonomi lokal dan nasional kedalam sistem ekonomi
global, dalam sebuah perdagangan dan aliran modal yang tanpa batas. Hal ini
pada dasarnya mendorong produksi industri, dan sepertinya akan mendorong lebih
jauh kepada peningkatan konsumsi sumber daya alam. Akan tetapi, adanya
ketebatasan dari model pembangunan ekonomi konvensional tersebut lambat laun
akan semakin kelihatan jelas. Sebagai contoh, peningkatan produksi ekonomi hanya akan meningkatakan jurang perbedaan pendapatan,
membuat si kaya menjadi lebih bahagia, pada saat yang sama tidak mampu untuk memenuhi
kebutuhan dasar bagi si miskin yang mencapai jumlah lebih dari 1 milyar jiwa. Manakala
20 persen populasi dunia menikmati gaya hidup yang sangat berkecukupan, dilain
pihak 20 persen populasi dunia yang lain berada dalam kondisi kemiskinan mutlak
(absolute poverty). Pada kenyataannya
20 persen dari kelompok paling kaya- dengan pendapatan tertinggi, mempunyai
pendapatan hampir 60 kali lebih banyak dari 20 persen kelompok paling miskin (GNI rasio, ingat). Hal yang lebih menyedihkan, gap ini telah berlipat
dalam jangka waktu 30 tahun terakhir. Pembangunan ekonomi konvensional telah
menghadapi tantangan untuk meningkatkan aspek kesetaran (equity), semenjak konsep ini diperkenalkan petama kali dalam Persetujuan
Bretton Woods (Breeton Woods Agreement),
beberapa waktu setelah perang dunia kedua.
Hari ini, menghadapi tekanan
ekologis yang semakin meningkat, pendapat kritis menjadi semakin kentara dan
bermunculan. Tingkat pemanfaatan sumber daya alam dan timbulan pencemaran yang
mengikuti, pada saat ini bergerak lebih cepat dibandinkan dengan kemampuan alam
untuk meregenerasi. Perhitungan ahli biologi pada tahun 1986 mengindikasikan
bahwa manusia telah menggunakan 40 persen produk hasil fotosisntesis di
daratan, dengan kata lain manusia telah memanfaatkan 40 persen kemampuan alam
dari produksi hayati berbasis lahan. Studi lebih lanjut mengindikasikan, hal
yang sama terjadi pada pemanfaatan landas benua (lautan). Jika pemanfaatan
berbagai fungsi alam juga diperhitungkan, seperti penyerapan pencemar oleh air
dan tanah, perlindungan dari radiasi ultraviolet yang berbahaya, tidaklah sulit
untuk membayangkan bahwa aktivitas umat manusia telah berada pada batas yang melebihi
kapasitas bumi dalam jangka panjang.
Percepatan konsumsi sumber daya
alam yang menjadi peendukung utama pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan
standar secara materi dari berbagai negara didunia dalam beberapa dekade
terakhir, pada saat yang sama mendegradasi hutan, tanah, air, udara, dan
keanekaan hayati planet bumi. Manakala bumi menjadi kelebihan muatan secara
ekologis, pembangunan ekonomi secara konvensional sebenarnya adalah sebuah
langkah bunuh diri (self-destructive)
dan pemelaratan (impoverishing).
Banyak akademisi percaya bahwa melanjutkan jejak langkah sejarah ini hanya akan
membawa penyintasan (survival) umat
manusia di muka bumi berada dalam bahaya. Menjadi pasti kemudian, diperlukan langkah kecil untuk mengininisiasi aspek keberlanjutan, yang
akan secara efektif memutar arah orientasi ekologis secara global. Tentunya,
tekanan terhadap integritas ekologis dan kesehatan secara sosial harus menjadi
tujuan utama. Dibutuhkan inisiasi keberlanjutan yang efektif, termasuk
didalamnya perangkat yang memungkinkan keterlibatan sektor publik secara luas,
evaluasi strategi dan pengawasan terhadap kemajuan yang telah diperoleh. Dalam
hal ini, salah satu perangkat yang dapat menterjemahkan perhatian terhadap aspek
keberlanjutan kepada langkah nyata bagi publik adalah sebuah metode yang
dikenal sebagai analisis “jejak ekologis”. (continued)
Reference
: Wackernagel & Rees. 1996. Our Ecological
Footprint, Reducing Human Impact on the Earth. New Society Publisher. Canada
www.maszoom.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)



