Tampilkan postingan dengan label makanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makanan. Tampilkan semua postingan

3.01.2013

Gaya hidup ramah lingkungan berawal dari rumah kita



Manusia dengan populasi mencapai lebih dari 6 Milyar jiwa merupakan pelaku utama yang bertanggung jawab terhadap perubahan iklim global. Gaya hidup individualis dan hedonis khas barat semakin menambah berat beban alam menanggung seluruh kebutuhan manusia.
Saatnya hari ini kita berbuat sesuatu dengan target besar menyelamatkan Bumi. Hal kecil yang kita lakukan akan membawa efek samping pada kesehatan yang lebih baik.
Apa yang sebaiknya kita lakukan?

  •  Makan daging cukup seminggu sekali, konsumsi 0,45 kg daging setara dengan 1.800 s.d 2.500 galon air atau 100 buah tabung air mineral/galon. 
  •  Mengurangi pemakaian mobil dan motor, transportasi jarak dekat bisa ditempuh dengan jalan kaki atau bersepeda, jarak lebih jauh bisa ditempuh dengan kendaraan umum. 
  •  Menyesuaikan suhu tubuh dengan suhu lingkungan, meminimalisir pemanfaatan alat pengatur ruang (AC), dengan begitu pembakaran kalori menjadi minimal.
  • Memilih semua barang produksi lokal, termasuk makanan (ini bisa dari kebun sendiri) , Apel Malang jauh lebih ramah lingkungan dari New York Aple (Jejak Energi), 
  •  Menggunakan alat/barang, bangunan sesuai fungsinya, HP untuk komunikasi, Lappy untuk kerja, CD player untuk mmemutar music, TV untuk nonton. 
  •  Mengambil makanan yang terhidang (bufe) sesuai kebutuhan, tidak ada makanan tersisa 
  •  Mengurangi pemakaian tisu, minuman botol, sangat bagus apabila membawa bekal dan minuman dari rumah ketika beraktivitas. 
  •  Mencuci dan menyiram tanaman dengan air hujan yang kita panen langsung dari atap rumah ...

So .... mana yang sudah menjadi gayah hidup hidjaoe kamoe?

adapted dari Kemenlh RI

2.25.2013

Bagaimana pola konsumsi kita berpengaruh terhadap perubahan iklim global



Meningkatnya  pola konsumsi kita berkorelasi langsung dengan terjadinya perubahan iklim global. Produksi bahan pangan dan sistem pertanian global sangat bergantung kepada energi fosil. Bahan bakar minyak digunakan pada hampir semua aspek produksi pangan, mulai dari pembuatan pupuk kimia, irigasi, mekanisasi pertanian sampai dengan pengolahan dan distribusi hasil pertanian.
Selanjutnya ketika makanan yang kita produksi tidak terkonsumsi dengan baik, misalnya karena kelebihan stok dan penurunan kualitas, bahan pangan tersebut akan berakhir di tempat sampah dan terdekomposisi secara anaerob. Masalah lebih besar muncul karena gas yang diemisikan dari proses tersebut adalah gas metana yang 25 kali lebih berbahaya dibanding karbon dioksida dalam efek rumah kaca.
Sebagai gambaran akan pengaruh pola konsumsi kita terhadap perubahan iklim global, berikut disajikan beberapa data yang berasal dari Organisasi Pangan Dunia (FAO).
·           Di negara Inggris, total emisi gas rumah kaca yang berasal dari makanan yang terbuang menjadi sampah setara dengan 20 persen emisi kendaraan di seluruh jalan raya Britania;
·           Makanan yang terbuang menjadi sampah di Amerika Serikat setara dengan 300 juta barel minyak bumi pertahun, hampir 4 persen dari  total konsumsi minyak negara tersebut;
·           Makanan menjadi komponen utama yang dibuang ke tempat pembuangan akhir sampah di Amerika Serikat, dan menjadi sumber bagi 34 persen emisi gas rumah kaca .
Selanjutnya bagaimana dengan kita di nusantara? Baiknya kita gali kembali segala nilai – nilai dan kerifan lokal yang ada, agar kita tidak sama dengan mereka. Agama mengajarkan bahwa Tuhan tidak menyukai hambanya yang berlebihan, misal dalam konsumsi makanan.
Sifat mubadzir adalah perbuatan setan. Kita mulai dengan membeli sesuai kebutuhan. Pastikan setiap kilogram bahan pangan yang kita siapkan aman sampai terkonsumsi di meja makan.
Mau, jadi kawan syaitan?
www. Maszoom.blogspot.com
adapted from FAO, Roma, Italia