Tampilkan postingan dengan label climate change. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label climate change. Tampilkan semua postingan

4.11.2013

Mengenal Sepuluh Anggota GRK, Biang Berbagai Masalah Dunia


Bak pepatah lama mengatakan, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Hal ini sangat nyata dalam keseharian kita dimana secara intens kita mendapat informasi berbagai gejala alam yang menunjukan telah terjadinya climate change, tanpa ada penjelasan yang sepadan mengapa hal itu bisa terjadi.

Jamak diketahui bahwa global warming adalah terjadi akibat meningkatnya kosentrasi gas rumah kaca yang diwakili oleh karbon dioksida di atmosfer. Penjelasan lebih jauh tentang gas rumah kaca (GRK) sedemikian terbatas sehingga kita sangat sedikit mengenal bagaimana dan seperti apa karakternya.

Akibatnya kita belum melakukan tindakan apapun untuk sekedar mengurangi kuantitas emisi GRK. Pemahaman akan GRK yang sebatas karbon dioksida-pun menjadi bumerang karena berbagai upaya dan mekanisme mitigasi dan adaptasinya tidak lebih dari sekedar retorika.

Sejenak lupakan isu, polemik, perbenturan kepentingan dan berbagai standar ganda dalam masalah pemanasan global. Fokus kita “zoomed” ke akar permasalahan, siapa yang harus dipersalahkan menjadi tersangka atau aktor utama pemanasan global.

Saat ini paling tidak diketahui sebanyak 10 (sepuluh) jenis GRK penyebab pemanasan global, dengan masing masing jenis mempunyai kegunaan dan potensi masalah yang sangat beragam. Beberapa negara yang menyadari bahaya GRK tersebut bagi kelangsungan planet bumi, telah melakukan gerakan nyata melalui pembatasan/ pelarangan pemanfaatan senyawa tersebut. Kita di Indonesia, mohon maaf baru dalam taraf penjajakan dan perkenalan, belum ada tindakan (action) nyata.
 (2 b continued ...)
Contents adapted from The United Nations

12.02.2011

Buaya Vs Dinosaurus, Refleksi Adaptasi Manusia Terhadap Perubahan Iklim Glogal

Perubahan iklim (climate change) terjadi melalui peningkatan konsentrasi gas gas rumah kaca (NOx, CO2 dan CH4) di atmosfer yang dihasilkan melalui berbagai kegiatan manusia. Selama ini dipercayai bahwa kontribusi terbesar aktivitas manusia terjadi pada kegiatan pembakaran bahan bakar fosil. Meski secara alami bumi juga menghasilakan gas rumah kaca (e.g letusan gunung berapi, pelapukan batuan), tetapi pengaruhnya tidak terlalu signifikan. Gas gas rumah kaca yang dihasilkan pada pembakaran tersebut mempengaruhi iklim global dengan cara mengubah radiasi sinar matahari yang masuk dan radiasi sinar infra merah yang keluar yang secara alami merupakan bagian dari kesetimbangan energi bumi kita.


Usaha pengurangan emisi tidak akan secara langsung mengurangi konsentrasi GRK di atmosfer. Dengan atau tanpa usaha mengurangi emisi gas rumah kaca, perubahan iklim akan terus terjadi dalam kurun waktu berabad-abad mendatang. Hal ini terjadi salah satunya karena adanya kemampuan mengikat panas dari lautan yang merupakan pembentuk utama permukaan bumi.. Dengan kata lain perubahan iklim adalah suatu hal yang niscaya pasti terjadi seperti yang sudah mulai kita rasakan saat ini. Kejadian banjir, kekeringan, meluasnya gurun, badai tropis, hujan dengan intensitas tinggi, panas ekstrim dengan intensitas yang semakin tinggi sudah cukup menunjukkan bukti.
Menangani perubahan iklim dengan kondisi bumi yang semakin panas berarti mengubah cara hidup manusia. Oleh karena itu strategi adaptasi terhadap perubahan iklim memiliki peran yang sangat penting dalam menjamin keberlanjutan kehidupan manusia di muka bumi. Alam telah mengajarkan manusia banyak hal. Pepatah Minang menyebut “alam takambang jadi guru”, alam mengajarkan banyak hal lebih dari sekedar maha guru, guru besar atupun guru itu sendiri. Dalam hal ini manusia bisa belajar adaptasi dari dua hewan besar Dinosaurus atau Buaya.
Dinosaurus, dengan tubuh gagah, gempal dan berotot gagal bertahan dimuka bumi karena tidak mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim yang terjadi. Akhirnya keberadaanya sekedar tinggal sejarah ditunjukkan dari tulang-tulang yang berserakan. Hal lain terjadi pada hewan bernama buaya. Buaya telah lebih dulu ada jauh sebelum dinosaurus muncul ke dunia. Sampai saat ini buaya menjadi salah satu bukti suksesnya adaptasi perubahan iklim. Dengan kemampuan managemen energi yang efisien (berdarah dingin, tahan tidak makan sampai berbulan bulan, gerakan taktis, kamuflase) terbukti menjadi kunci dia survive sampai hari ini.
Tentunya manusia bisa belajar banyak dari buaya tanpa harus menjadi buaya apalagi buaya darat(an) dalam melewati perubahan iklim yang terjadi. Perubahan iklim mengharuskan manusia untuk melakukan perubahan cara hidup. Sebagai contoh manajemen perencanaan kota yang berada di daerah pesisir harus mempertimbangkan potensi abrasi maupun rob akibat kenaikan muka air laut. Pada daerah tertentu bangunan-bangunan perlu dirancang untuk lebih tahan terhadap panas, hujan atau badai yang lebih kuat. Daerah langganan banjir harus meningkatkan managemen drainase dan daerah resapan air yang lebih baik sementara daerah rawan kekeringan harus lebih arif dalam memanfaatkan sumber daya air.
Adaptasi juga harus dilakukan oleh para petani, nelayan dan pekerjaan-pekerjaan yang sejenis. Penyesuaian jadwal tanam, pemilihan tanaman yang lebih tahan terhadap perubahan iklim, penggunaan pupuk yang sesuai merupakan sebagian yang bisa dilakukan. Pada akhirnya manusia bisa menarik kesimpulan akan pertarungan Buaya vs Dinosaurus. Banyak hal dan pelajaran yang bisa dipetik. Satu kalimat yang mungkin bisa mewakili adalah berubah atau punah. Adaptasi atau mati.
Maszoom.blogspot.com dari beberapa sumber resmi

6.25.2011

Bumi Semakin Panas, Bukti Secara Ilmiah Dari Perubahan Iklim Global


Lonjakan konsentrasi CO2 terjadi setelah revolusi industri pada abad 18. Dua ratus tahun lalu kadar CO2 di atmosfer sekitar 280 ppm (part per million), prediksi tentang buruknya dampak perubahan iklim global membuat para ilmuwan dan para pakar iklim serta aktifis lingkungan prihatin, sehingga diadakan sebuah konferensi di villach austria pada tahun 1985. Konferensi tersebut menghasilkan evaluasi pertama dan otoritatif untuk menyatakan betapa seriusnya potensi kerusakan akibat perubahan iklim.

Kini kadar CO2 telah mencapai ke angka 383 ppm, padahal pada tahun 1958 masih di level 315 ppm. Tirai karbon itu telah pekat menebal. Bila tidak ada langkah konkret mereduksi emisi CO2 maka konsentrasi CO2 akan mencapai 560 ppm (Tim Flannery 2006). IPPC membuat suatu moodel bila kadar CO2 mencapai level 560 maka temperatur udara akan naik antara 1,5 – 4,5 derajat celcius. Air laut akan naik sampai 90 sentimeter karena es di kutub mencair, selain karena kenaikan suhu air laut.
Faktor pemicu yang memberikan kontribusi terbesar laju kenaikan suhu global adalah erea industrialisasi yang di awali di Eropa Barat sejak akhir tahun 1700 – an dan masih berlangsung secara masif sampai hari ini. Era ini ditandai pula dengan peningkatan kualitas kesehatan yang mendorong semakin bertambahnya populasi dunia.  Dalam kurun wakatu 100 tahun antar 1850 sampai 1950 penduduk bumi ttelah bertambah dua kali lipat darai 1,25 M mrnjadi 2,5 milayar. Pertambahan penduduk yang tak terkendali menyebabkan tingginya aktivitas perekonomian karena tingginya laju konsumsi barang-barang, peningkatan pemanfatan bahan bakar fosil, kegiatan pertanian dan peternakan, dan konversi lahan yang tidak terkendali yang menyebabkan peningkatan emisi yang dilepaskan ke udara, termasuk gas-gas yang tergolong dalam gas rumah kaca (green house gases) yang menyebabkan pemanasan global.
Menurut World Disaster Report (2001), kerugian ekonomi akibat bencana iklim di tingkat global yang terjadi sekarang dibandingkan dengan yang terjadi pada tahun 1950 – an sudah meningkat 14 kali yaitu mencapai US$ 50 – 100 milyar per tahun, demikian juga dengan kematian akibat bencana iklim juga meningkat 50% per dekade. Pada tahun 2050, apabila tidak ada adaptasi dan mitigasi perubahan iklim maka diperkirakan kematian akibat bencana mencapai 100 ribu orang per tahun.

Hasil kajian ipcc pada 2007 menunjukan bahwa 11 dari 12 tahu  terpanas sejak 1850 terjadi dalam kurun waktu 12 tahun terakhir. Kenaikan termperatur global antara tahun 1850 sampai 2005 mencapai 0,760C. Permukaan air laut secara rata rata telah naik sebesar 1,8 mm pertahun dalam rentang waktu antara tahun 1961-2003. Kenaikan muka air laut sejak awal abad industri sampai sampai saaat ini diperkirakan lebih dari 17 cm. Apabila tidak ada suatu upaya untuk menanggulangi maka diperkirakan pada abad 21 efek pemanasan global akan lebih masiv dan cendedung tidak terkendali.
Laporan AR4 yang diluncurkan di Valencia Spanyol pada tahun 2007 menggaris bahwi perubahan iklim dan menyedot perhatian dunia internasional. Laporan itu menyebutkan telah terjadi perubahan iklim global yang meliputi perubahan komposisi atmosfer, rata rata temperatur global, kondisi samudra, dan parameter-parameter iklim lainnya. Para pengambil keputusan tingkat tinggi pada hampir seluruh negara di dunia pada akhir 2007 secara bulat telah mengakui bahwa perubahan iklim memang telah terjadi dan merupakan permasalahan global sehingga diperlukan solusi global yang melibatkan seluruh umat manusia.