5.25.2016

Tipe dan Tingkatan Keanekaragaman Hayati


Ilustrasi kehati

Langkah penting dalam mendiskusikan gagasan nilai keanekaragaman hayati adalah dengan mendefiniskan terlebih dahulu keanekaragaman hayati itu sendiri. Sesuai dengan UNCBD (1992), keanekaragaman hayati didefiniskan sebagai variabilitas diantara berbagai mahluk hidup dari segala sumbernya, termasuk diantaranya daratan (terrestrial), lautan dan kompleksitas ekologis dimana mereka menjadi bagiannya. Keanekaragaman hayati mencakup empat tingkatan yaitu tingkat genetik, spesies, ekosistem dan fungsional ekosistem. Dalam tingkatan paling dasar, keanekaragaman hayati menggambarkan tingkat variabilitas dalam spesies. Dapat dikatakan level ini memperhatikan informasi yang diwakili secara genetik dalam DNA setiap individu tumbuhan dan hewan yang meliputi gen, nukleotida, kromosom dan individu.
Keanekaragaman spesies merujuk kepada keberagaman spesies. Secara fisik level ini ditunjukan dengan keanekaragaman kingdom, phyla, famili, genera, subspesies, spesies dan populasi. Estimasi empiris dari level ini ditunjukkan dengan tingkat ketidak-pastian yang tinggi. Dalam kenyataanya, hanya sekitar 1,5 juta spesies yang telah diketahui saat ini (Parker,1982; Arnett, 1985), dengan perkiraan bumi menjadi rumah bagi 5-30 juta spesies lainnya (Wilson, 1988). Karena keanekaragaman genetik dan spesies adalah berkaitan erat, terkadang perbedaan keduanya menjadi sangat kabur, menjadi relevan kemudian keduanya diwakili oleh keanekaragaman genotif dan fenotif untuk memudahkannya.
Keanekaragaman ekosistem merujuk kepada keanekaragaman dalam tingkat supra-spesies atau tingkat komunitas. Hal ini mencakup keanekaragaman komunitas organisme dalam habitat dan kondisi fisik tertentu dimana mereka hidup. Suatu paradigma lama yang telah lebih dulu berkembang menganggap bahwa keanekaragaman spesies merupakan aspek paling penting dalam keanekaragaman hayati karena kemampuannya untuk meningkatkan produktifitas dan stabilitas ekosistem (Odum,1950). Akan tetapi kajian akhir-akhir ini menunjukan bahwa tidak ada pola khusus yang menunjukan hubungan yang diperlukan antara keanekaragaman spesies dan stabilitas ekosistem (Johnson et al., 1996). Kekuatan suatu ekosistem lebih ditentukan keberadaan organisme atau kelompok organisme tertentu, yang lebih dikenal sebagai spesies kunci (keystone spesies) (Folke et al, 1996).
Keanekaragaman fungsional merujuk kepada kemampuan ekosistem untuk mendukung kehidupan dan menyerap dalam level tertentu tekanan dan benturan, tanpa merubah ekosistem saat ini menjadi suatu rejim perilaku yang lain, misalnya domain stabilitas yang lain (Turner et al., 1999). Pendekatan ini pada awalnya dikenal sebagai resiliensi (resilience) (Holling, 1973). Sayangnya, keankearagamn fungsional yang memperkuat sistem saat ini masih belum begitu dipahami dan batasan fungsional kritis berkaitan dengan berubahnya kondisi lingkungan dalam ruang dan waktu berbeda sama sekali belum diketahui (Perrings and Pearce, 1994). Suatu ekosistem dengan resiliensi yang rendah dapat menyebabkan mengurangan produktivitas yang selanjutnya mendorong terjadinya kehilangan fungsi yang tidak dapat kembali lagi, baik untuk generasi sekarang maupun yang akan datang (Arrow et al., 1995). Dalam cakupan luas keanekaragaman fungsional ditunjukan oleh kemampuan ekosistem menimbulkan layanan seperti pengaturan siklus alami utama (air dan karbon) dan proses ekosistem primer seperti fotosintesis dan daur biogeokimia (Turner etal., 2000).
Nunes, Paulo et al., 2001. Economic Valuation Of Biodiversity, Sense or Nonsense? In Elsevier Ecological Economics Journal
 

Tidak ada komentar: