8.14.2016

Pertumbuhan Ekonomi, Pemelaratan atau Bunuh Diri Ekologis?

ilustrasi pemanfaatan sumber daya alam (net)
Umat manusia mengahadapi tantangan yang mungkin tidak pernah diperkirakan oleh generasi sebelumnya. Ada pemahaman umum bahwa ekosistem bumi tidak akan lagi mampu untuk menjaga aktivitas ekonomi dan konsumsi material pada tingkat pemanfaatan seperti sekarang ini. Pada waktu yang bersamaan, aktivitas ekonomi secara global sebagaimana diukur oleh Produk Global Kotor (GWP), tumbuh sekitar empat persen pertahun, yang berkorelasi dengan peningkatan dalam ukuran waktu selama 18 tahun. Salah satu faktor yang mendorong perkembangan ini adalah adanya ledakan pertumbuhan populasi dunia. Pada tahun 1950, hanya terdapat 2,5 milyar manusia di muka bumi, jumlah tersebut berlipat menjadi hampir 6 milyar pada akhir milenium, dan diperkirakan akan semakin berlipat menjadi sekitar 10 milyar pada pertengahan abad ini. Secara signifikan peningkatan konsumsi energi dan material perkapita berpengaruh terhadap sitem ekologis, melebihi kecepatan pertumbuhan populasi masyarakat bumi itu sendiri. Suatu kondisi ekonomi yang tidak dapat balik (irreverseible) sepertinya adalah sebuah keniscayaan manakala menghadapi dan berbenturan dengan keterbatasan ekosfere. 

Pendekatan konvensional dalam  pembangunan telah secara sukses berhasil mengembangkan aktivitas dan pertumbuhan ekonomi sebagai agenda terdepan bagi hampir semua negara di dunia. Tujuan jangka panjang pembangunan ekonomi ini adalah untuk mengintegrasikan sistem ekonomi lokal dan nasional kedalam sistem ekonomi global, dalam sebuah perdagangan dan aliran modal yang tanpa batas. Hal ini pada dasarnya mendorong produksi industri, dan sepertinya akan mendorong lebih jauh kepada peningkatan konsumsi sumber daya alam. Akan tetapi, adanya ketebatasan dari model pembangunan ekonomi konvensional tersebut lambat laun akan semakin kelihatan jelas. Sebagai contoh, peningkatan produksi ekonomi  hanya akan meningkatakan jurang perbedaan pendapatan, membuat si kaya menjadi lebih bahagia, pada saat yang sama tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dasar bagi si miskin yang mencapai jumlah lebih dari 1 milyar jiwa. Manakala 20 persen populasi dunia menikmati gaya hidup yang sangat berkecukupan, dilain pihak 20 persen populasi dunia yang lain berada dalam kondisi kemiskinan mutlak (absolute poverty). Pada kenyataannya 20 persen dari kelompok paling kaya- dengan pendapatan tertinggi, mempunyai pendapatan hampir 60 kali lebih banyak dari 20 persen kelompok paling miskin (GNI rasio, ingat).  Hal yang lebih menyedihkan, gap ini telah berlipat dalam jangka waktu 30 tahun terakhir. Pembangunan ekonomi konvensional telah menghadapi tantangan untuk meningkatkan aspek kesetaran (equity), semenjak konsep ini diperkenalkan petama kali dalam Persetujuan Bretton Woods (Breeton Woods Agreement), beberapa waktu setelah perang dunia kedua. 

Hari ini, menghadapi tekanan ekologis yang semakin meningkat, pendapat kritis menjadi semakin kentara dan bermunculan. Tingkat pemanfaatan sumber daya alam dan timbulan pencemaran yang mengikuti, pada saat ini bergerak lebih cepat dibandinkan dengan kemampuan alam untuk meregenerasi. Perhitungan ahli biologi pada tahun 1986 mengindikasikan bahwa manusia telah menggunakan 40 persen produk hasil fotosisntesis di daratan, dengan kata lain manusia telah memanfaatkan 40 persen kemampuan alam dari produksi hayati berbasis lahan. Studi lebih lanjut mengindikasikan, hal yang sama terjadi pada pemanfaatan landas benua (lautan). Jika pemanfaatan berbagai fungsi alam juga diperhitungkan, seperti penyerapan pencemar oleh air dan tanah, perlindungan dari radiasi ultraviolet yang berbahaya, tidaklah sulit untuk membayangkan bahwa aktivitas umat manusia telah berada pada batas yang melebihi kapasitas bumi dalam jangka panjang. 

Percepatan konsumsi sumber daya alam yang menjadi peendukung utama pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan standar secara materi dari berbagai negara didunia dalam beberapa dekade terakhir, pada saat yang sama mendegradasi hutan, tanah, air, udara, dan keanekaan hayati planet bumi. Manakala bumi menjadi kelebihan muatan secara ekologis, pembangunan ekonomi secara konvensional sebenarnya adalah sebuah langkah bunuh diri (self-destructive) dan pemelaratan (impoverishing). Banyak akademisi percaya bahwa melanjutkan jejak langkah sejarah ini hanya akan membawa penyintasan (survival) umat manusia di muka bumi berada dalam bahaya. Menjadi  pasti kemudian, diperlukan langkah kecil  untuk mengininisiasi aspek keberlanjutan, yang akan secara efektif memutar arah orientasi ekologis secara global. Tentunya, tekanan terhadap integritas ekologis dan kesehatan secara sosial harus menjadi tujuan utama. Dibutuhkan inisiasi keberlanjutan yang efektif, termasuk didalamnya perangkat yang memungkinkan keterlibatan sektor publik secara luas, evaluasi strategi dan pengawasan terhadap kemajuan yang telah diperoleh. Dalam hal ini, salah satu perangkat yang dapat menterjemahkan perhatian terhadap aspek keberlanjutan kepada langkah nyata bagi publik adalah sebuah metode yang dikenal sebagai analisis “jejak ekologis”. (continued)

Reference :  Wackernagel & Rees. 1996. Our Ecological Footprint, Reducing Human Impact on the Earth. New Society Publisher. Canada
   www.maszoom.blogspot.com

Tidak ada komentar: