7.03.2014

Peran Budidaya Pertanian Urban dalam Melawan Pemanasan Global

taman urban (doc pribadi)
Sebagian kita saat ini telah merasakan bahwa pemanasan global telah terjadi dan ada banyak hal untuk disebutkan, sekedar menjadi bukti. Kita merasakan bahwa hari-hari menjadi semakin panas, angin ribut atau puting beliung menjadi sering terjadi, perubahan musim, hujan lebat, longsong, banjir semakin terbiasa. Musim yang tidak menentu menjadi masalah yang sangat besar bagi para petani, terutama dalam menentukan awal musim tanam maupun jenis tanaman yang akan dipilih. Hujan lebat pemicu banjir maupun kemarau panjang penyebab kekeringan menjadi penyebab kegagalan panen. Efek karambol berlanjut dengan kenaikan harga berbagai komoditi.

Pemanasan global menjadikan budidaya pertanian dan juga berkebun secara urban  semakin menantang. Dalam kegiatan berkebun secara urban, dengan sumber daya (lahan, waktu, tenaga, dana) yang serba terbatas, pemilihan tepat komoditi yang akan ditanam, kapan penyemaian dan kapan pemanenan sedikit banyak memerlukan perhitungan matang. Selain itu pemanasan global juga semakin menantang bagi budidaya pertanian urban dengan semakin berkembangnya vektor hama dan inang pembawanya. Tidak bisa dilupakan adalah kesesuaian lahan/tanah dengan jenis tanaman dalam kebun urban kita.

Pertanian dan kehutanan yang mendominasi pemanfaatan lahan di seantero jagat, merupakan faktor dominan dalam melawan pemanasan global melalui penyimpanan karbon (carbon sinking). Akan tetapi dengan semakin berkembangnya kota-kota tidak hanya di Indonesia namun juga di seluruh penjuru dunia, peran kawasan urban maupun suburban dalam melawan pemanasan global dengan cara serupa. Peneliatian terbaru menyebutkan bahwa ruang terbuka hijau perkotaan (taman kota, jalur hijau, lapangan golf, tanaman pelindung, turus jalan) mempunyai potensi menangkap karbondioksida (carbon capture) dari atmosfer untuk kemudian disimpan dalam seluruh bagian tanaman sebelum terdegradasi dan masuk ke tanah. Proses ini merupakan bagian dari skenario alam dalam mendaur ulang karbon (carbon recycle) di atmosfer.

Selanjutnya menjadi aspek yang sangat penting dalam perang melawan pemanasan global (global warming counter attact), untuk memilih tindakan yang memaksimalkan penyimpanan karbon (carbon sinking) tanpa menambah timbulan polutan pemanasan global atau gas rumah kaca dalam prosesnya. Dengan kata lain, kegiatan budidaya pertanian maupun perkebunan urban harus dilakukan secara ramah lingkungan. Sistem pertanian organik, pemilihan bibit yang adaptif, rotasi tanaman, tanaman penutup lahan, agen hayati dan pemanfaatan air hujan hanyalah sebagian yang bisa dijalankan untuk memperlambat pemanasan global.

www.maszoom.blogspot.com
referensi : Union of Concerned Scientist, USA, April 2010

Tidak ada komentar: